Categories

Showing posts with label artikel lain. Show all posts
Showing posts with label artikel lain. Show all posts

Sunday, January 30, 2011

PETANI (tidak) DI HATI PEMERINTAH

Pemerintah telah menetapkan penghapusan bea masuk untuk 57 bahan pangan ke Indonesia. Secara sepintas ini memberikan ketenangan di tengah melambungnya harga bahan pokok di pasar. Entah apa yang membuat pemerintah ekstra panik dan mengeluarkan kebijakan tersebut setelah rapat pleno mentri diantaranya Menteri keuangan, Menteri perdagangan, Menteri perekonomian dan beberapa menteri lainnya. Dengan demikian perbedaan harga akan sangat jelas terlihat antara produk impor dan produk hasil petani lokal.
Jika ditinjau kembali, kebutuhan akan bahan pangan di Indonesia yang mencapai angka 139 kilogram per kapita per tahun di tahun 2010. Padahal ancaman krisis dunia yang akan terasa mulai tahun 2011 sebenarnya pun telah di sampaikan oleh badan pangan dunia (WHO) di penghujung 2010. Namun tak ada kebijakan strategis dan nyata dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasinya. Padahal jika melihat hamparan luas lahan pertanian masih sangat mudah untuk didapati di antero negeri ini. Setidaknya ada sekitar 40 juta hektar dan 7,7 juta diantaranya digunakan sebagai lahan persawahan.
Menjadi hal yang sangat mengherankan jika negri dengan lahan surgawi ini tidak mampu menyediakan bahan pangan bagi 240 juta jiwa penduduknya. Jika stabilisasi harga yang dijadikan alasan utama atas penghapusan bea masuk ini, bukankah kita memiliki badan yang dulunya memiliki tugas tersebut. Namun mau dikatakan apalagi, “nasi sudah jadi bubur”. BULOG telah menjadi sebuah Perusahaan besar yang dituntut untuk memiliki keuntungan besar dan menjadi kumpulan mafia pangan baru di bangsa ini.
Padahal pada dasarnya krisispangan ini lebih dipengaruhi oleh banyaknya spekulasi dari para spekulan dan kartel-kartel pangan. Kemudian diperparah lagi dengan besarnya jumlah pasokan bahan pangan yang dijadikan bahan baku industry seperti  agrofuel dan pakan ternak.
Paradigma masyarakat menjadikan pertanian sebagai jalan hidup (way oflife) tidaklah sejalan dengan paradigma pemerintah yang menjadikan pertanian sebagai bisnis (farming is a business) yang merupakan jiplakan pemerintahan amerika. Sehingga Indonesia yang sangat layak sebagai produsen raksasa dijadikan pasar dalam world free market.  Mungkin karena pemerintahan kita banyak diisi oleh doktor lulusan amerika dan tidak memahami budaya masyarakat kita.
Dihapuskannya bea masuk bagi bahan pangan ini akan berlaku satu sampai dua tahun sampai harga pangan mulai stabil. Tapi apakah mungkin, jika kita melihat kebijakan yang diambil untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Beras yang merupakan bahan pangan paling banyak dikonsumsi saja, butuh peningkatan produksi sebesar 5% (70,01 juta gabah kering giling atau setara dengan 43,93 juta ton beras) di tahun 2011.
Maka dari itu untuk mencapai peningkatan produksi beras 5% di tahun ini, ada beberapa langkah yang akan diambil oleh pemerintah diantaranya adalah percepatan benih,  penyaluran beras bersubsidi bagi masyarakat ku­rang mampu melalui program beras untuk rakyat miskin (ras­kin), operasi pasar (OP) beras dan adanya koordinasi yang intensif antar dinas pertanian, baik di provinsi, kabupaten, ataupun kota.
Lagi-lagi secara tidak sadar, hal tersebut justru akan menguntungkan perusahaan yang bergerak dalam bahan pangan dunia. Adapun Perusahaan-perusahaan yang sangat mendominasi penguasaan bahan pangan dan pendukung produksi pertanian di dunia itu  diantaranya Bunge (USA), Cargill (USA), Nable Group (Singapore), Potas  Corp. (Canada), Mosaic (USA), Yara (Norwegia), Monsanto, Syngeta, Bayer, dan DOW.
Dapat terlihat nyata di mana posisi petani di hati pemerintah. Ada benarnya juga apa yang marak dibicarakan saat ini bahwa telah banyak kebohongan public dilakukan oleh pemerintah. Keberpihakan pemerintah kepada rakyat yang mayoritas adalah petani dan sebagian besarnya masih gurem adalah hal yang tidak benar.
Dengan kondisi tersebut harus dikaji lebih jauh hal yang perlu dibenahi dalam pembangunan sector yang telah menguatkan Negara ini. Hal yang perlu dibenahi diantaranya sebagai berikut:
Jaminan Harga bagi Petani
Meski harga pembelian pemerintah (HPP) bagi beberapa bahan pangan telah ditetapkan, namun perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap harga tersebut. Ada banyak factor yang harus diperhatikan diantaranya ialah biaya input produksi di kalangan petani dan biaya distribusi pemasaran dikalangan pengusaha.
Operasi pasar yang kadang dilakukan harusnya berbarengan dengan tindakan yang membuka kesempatan bagi petani dan pelaku pasar lainnya untuk menyampaikan keluh kesah atas permasalahan hulu-hilir pertanian.
Pemberian jaminan harga bagi petani yang tepat diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi petani dan meretas ulah jahil para tengkulak di pasar. Sehingga para konsumenpun dapat merasakan kepuasan harga akan kebutuhan pokok.
Pengembangan Riset Pada Komoditi Pangan
Setelah kesempatan untuk memasarkan produk yang semakin terbuka lebar di Indonesia, perusahaan-perusahaan Multinasional akan menjadi idola baru di sebagian besar masyarakat konsumtif Indonesia. Pemerintah seharusnya memberikan kesempatan bagi SDM yang melimpah ruah di Negri ini. Penelitian akan genetik tanaman yang dapat meningkatkan produksi dan tahan pada iklim yang ekstrim harus segera dilakukan. Tak ada kata terlambat untuk memulai daripada tidak ada sama sekali.
Dengan pengembangan ini akan meningkatkan kemandirian bangsa. Varietas yang digunakan oleh masyarakat merupakan hasil cipta asli bangsa ini. Sehingga yang diuntungkan adalah bangsa kita sendiri. Dalam perdagangan bebas ini,  pemerintah haruslah pandai-pandai mengatur keuangan yang masuk dan keluar dari bangsa ini. Saya rasa tidak ada salahnya jika penelitian dilakukan meski dengan biaya yang besar namun kelak keuntungan akan diperoleh oleh bangsa ini.
Pengawasan terhadap distribusi benih dan pupuk bersubsidi.
Jika ditinjau dari proses distribusi bahan pangan, sangatlah tidak masuk akal jika biaya distribusi untuk produk lokal lebih tinggi daripada produk impor. Namun apa yang membuat harga bahan pangan lokal lebih tinggi daripada bahan pangan yang diimpor. Padahal biaya distribusi merupakan salah satu modal dalam sebuah usaha.
Dapat dindikasikan bahwa banyak kesalahan yang harus dibenahi dalam proses ini. Maraknya pungutan liar di sepanjang jalur distribusi dan diperparah dengan buruknya akses transportasi menjadi hal yang menghiasi proses distribusi pangan. Menjadi hal yang harus segera dibenahi oleh pemerintah, sehingga biaya dapat ditekan dan harga jual tetap dapat memberikan keuntungan bagi produsen maupun pengusaha lokal.
Pengembangan Teknologi Pasca Panen
Besarnya penurunan bobot gabah kering giling menjadi beras utuh dipengaruhi oleh bagaimana penanganan pengelolaan pasca panen. Penurunan tersebut banyaknya bulir yang rusak dan tidak menjadi beras utuh sehingga tidak layak dipasarkan.
Untuk menjadi bangsa yang mandiri harus ada sikap tegas dari pemerintah. Ketergantungan yang dihadirkan perusahaan internasional di masyarakat Indonesia harus segera terhapus. Negara dengan keanekaragaman jenis produksi dan Sumberdaya lahan yang  begitu luas layaknya tidak dijadikan pasar bagi konsumen pangan. Tetapi haruslah berimbang antara produsen dan konsumen.
Hal ini dapat ditempuh jika para petani tidak dihantui oleh ketakutan dengan kehadiran produk asing di pasar yang harga dan kualitasnya mengalahkan produk petani lokal. Perusahaan internasional telah menjadikan pasar bebas sebagai label alasan untuk memasarkan produknya, sehingga keuntungan semakin besar. Kekayaan alam kita pun dikeruk habis-habisan oleh perusahan-perusahan tersebut. Dan Negara kita yang tercinta ini bukannya menjadi tambah kaya namun justru semakin terpuruk. Keluar dari perdagangan bebas adalah  langkah yang dapat dilakukan untuk keluar dari jebakan lingkaran setan kapitalisme global.

*anggota dewan pertimbangan organisasi Forum Komunikasi dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (DPO-FKK HIMAGRI)
*Kordinator Komisi Advokasi Pertanian Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (KAP-ISMPI)

Sunday, April 25, 2010

Mahasiswa dan Petani

APAKAH mahasiswa pernah berpikir, nasi yang mereka makan setiap hari adalah hasil keringat petani? Apakah mereka tahu dan berpikir, petani terkadang menahan lapar untuk mengirit ongkos hidup sehari-sehari?

Banyak anak petani dikirim belajar ke kota. Mereka ingin memperoleh pendidikan lebih tinggi dan layak untuk mengubah nasib orang tua jadi lebih baik. Orang tua yang berharap anak-anak itu kelak tak hidup seperti mereka sebagai petani.
Mengapa? Adakah yang salah dengan profesi petani?

Mahasiswa diasumsikan sebagai kaum intelektual yang elite, yang berbeda dari masyarakat biasa. Tak mengherankan jika setelah pulang kampung, mereka merasa asing di desa. Mereka merasa elite, lalu hidup mengelite di masyarakat yang berbeda. Padahal, mereka dulu hidup dan dihidupi keluarga di desa yang sebagian besar petani. Bahkan tak sedikit orang tua mereka menjual sawah untuk biaya kuliah.

Tak ada yang salah dengan asumsi bahwa mahasiswa adalah kaum elite karena itulah harapan yang dibangun. Mereka diharapkan mampu jadi pemimpin dan motor perubahan serta berperan dalam penguatan rakyat dari tingkat desa hingga kelak di birokrasi pemerintahan, bahkan sampai jadi pemimpin bangsa.
Pemimpin Masa Depan Ya, bukankah pemuda sekarang pemimpin di masa datang? Yang jadi masalah, mental “mengelite” itu malah menjauhkan diri mereka dari realitas kehidupan di sekitar, khususnya bagi anak petani.

Mahasiswa dididik berdasar harapan yang melekat pada disiplin ilmu masing-masing. Mahasiswa keguruan ya jadi guru, mahasiswa teknik ya jadi ahli teknik, yang jadi petani adalah para insinyur pertanian.  Namun yang terjadi tak seperti itu. Sebab, sang insinyur malu mencangkul di sawah. Apalagi yang tak punya latar belakang pendidikan pertanian.

Sikap hidup elite mahasiswa membawa mereka ke alam idealitas yang kontradiktif dengan realitas hidup. Mahasiswa anak petani, kini lupa meningkatkan kesejahteraan petani. Mereka malu diketahui sebagai anak petani yang hidup di atas lumpur sawah. Terbukti, orientasi kerja mereka menjadi PNS. Itu nyaris terjadi pada setiap mahasiswa dari berbagai bidang kelimuan.

Wednesday, April 14, 2010

Khasiat Jagung Oranye untuk Mengatasi Kebutaan

West Lafayette - Apa beda jagung kuning dan jagung oranye? Beruntunglah negara kita, juga negara-negara di Asia pada umumnya, yang banyak tumbuh jagung berwarna oranye. Ternyata jagung oranye lebih kaya bahan vitamin A dibanding jagung kuning atau putih. Warna oranye berasal dari karotenoid kadar tinggi, salah satunya adalah beta-karoten. Di dalam pencernaan, manusia mengubah beta-karoten, yang juga berlimpah di wortel, menjadi vitamin A.

Torbert Rocheford, profesor agronomi di Universitas Purdue, West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat, memimpin penelitian kandungan jagung ini yang dikaitkan dengan tingkat kebutaan dan kematian anak.

Saturday, December 5, 2009

Presiden Peringatkan 'Gerakan' 9 Desember

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memperingatkan ada pihak-pihak tertentu yang ingin memanfaatkan peringatan Hari Antikorupsi Dunia pada 9 Desember 2009 untuk menggelar gerakan sosial bermotif kepentingan politik.
Dalam pengantar sebelum memulai rapat kabinet paripurna membahas program 100 hari di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Jumat, Presiden di hadapan para menteri mengatakan sejak lima tahun terakhir peringatan Hari Antikorupsi Sedunia telah digunakan untuk menambah semangat dan kegigihan guna memberantas korupsi di Indonesia.
Namun, lanjut Presiden, ia mendapatkan informasi bahwa pada 9 Desember mendatang akan ada gerakan-gerakan sosial bermotif politik yang sama sekali tak berkaitan dengan semangat antikorupsi.
"Informasi yang saya dapat juga ada yang motifnya bukan itu, tapi motif politik yang sesungguhnya tak senantiasa atau selalu terkait dengan langkah pemberantasan korupsi," ujarnya.
Menurut Presiden, mungkin saja pada 9 Desember 2009 nanti akan muncul tokoh-tokoh yang selama ini tidak ia ketahui sepak terjangnya dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
"Mungkin saja akan muncul tokoh-tokoh nanti pada 9 Desember yang selama lima tahun lalu tidak pernah saya lihat kegigihannya di dalam memberantas korupsi mungkin akan tampil. Ya selamat datang kalau memang ingin betul memberantas korupsi di negeri ini bersama-sama, dengan demikian akan bawa manfaat bagi rakyat kita," tuturnya.
Presiden juga kembali menyampaikan di balik hiruk pikuk pemberitaan tentang Bank Century, terdapat motivasi politik yang tidak dapat digolongkan sebagai rasa ingin tahu masyarakat.
"Saya katakan seperti itu supaya saudara tidak 'surprise' nanti. Tetapi, pesan saya, apa pun yang akan terjadi di Jakarta utamanya, jangan ganggu sama sekali konsentrasi dan kegigihan kita untuk melaksanakan tugas pokok kita menjalankan tugas-tugas kita bersama menyukseskan pembangunan dan dapat ditingkatkannya kesejahteraan rakyat kita," tuturnya. 
Kepala Negara memperkirakan situasi politik tetap akan menghangat selama satu hingga lima minggu terakhir, dan menganggapnya sebagai tidak luar biasa dalam kehidupan demokrasi.
"Ini bagian dari ekspresi kebebasan, bagian dari demokrasi itu sendiri. Sepanjang semua itu tidak sampai pada terguncangnya stabilitas di negeri ini yang akhirnya apa yang harus dilakukan pemerintah tidak bisa dilakukan, dan yang akan menjadi korban adalah rakyat kita," ujar Presiden.

Wednesday, November 25, 2009

Mengenali Ragam Buah di Taman Wisata Mekarsari

Bogor - Ingin mengenali aneka jenis buah-buahan yang ada di Indonesia? Coba ajak keluarga Anda ke Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor.

Lokasi wisata ini boleh dibilang sangat cocok untuk mengenalkan keanekaragaman hayati (plasma nutfah) buah-buahan tropis terbesar di dunia, khususnya jenis buah-buahan unggul yang dikoleksi dari seluruh daerah di Indonesia.

Taman wisata yang diresmikan sejak 1995 itu juga melakukan penelitian budidaya (agronomi), pemuliaan (breeding) dan perbanyakan bibit unggul untuk kemudian disebarluaskan kepada petani dan masyarakat umum.

Di atas tanah seluas 264 hektare ini juga dilengkapi sarana wisata untuk wisatawan nusantara maupun mancanegara. Wisata di tengah taman buah didukung berbagai wahana yang mendekatkan pengunjung kepada alam, seperti: Family Garden, Rekreasi Danau (20 ha), Baby Zoo, Rusa Tutul, Garden Center, Greenhouse Melon, Outbound, Bunga Bangkai, Kids Fun Valley, Menara Pandang, dan Bangunan Air Terjun (Puri Tirto Sari).

Sejumlah kegiatan yang menjadi favorit pengunjung antara lain: company gathering, piknik keluarga, wisata petik buah dan sayur, barbeque, senam pagi, dan fruitwalk (jalan-jalan di kebun buah).

Untuk masuk ke Taman Wisata Mekarsari, Anda hanya diwajibkan membayar tiket masuk seharga Rp10.000 untuk dewasa dan Rp 9.000 untuk anak-anak. Adapun untuk berkeliling melihat seluruh fasilitas kebun buah, Anda bisa menggunakan kereta keliling dengan membayar Rp3.000/orang.

Dengan kereta itu, Anda dan anak boleh berhenti di tempat-tempat wisata yang diinginkan dan melanjutkan perjalanan dengan kereta berikut tanpa dipungut bayaran lagi. Jika kebun buah yang didatangi sedang panen, pengunjung boleh membeli dengan memetik langsung buah di pohon. Sementara jika sedang tidak panen atau lewat waktu panen, pengunjung bisa membeli buah di kios yang ada di kebun atau di toko buah di areal Graha Krida Sari (gedung pusat informasi).

Taman Buah Mekarsari menyediakan fasilitas belajar menanam bagi anak-anak. Anak akan diberi satu pot, media tanam, alat-alat menanam, dan pohon yang akan ditanam. Anak akan diajarkan bagaimana pohon yang ada di kantong tanam plastik (polybag) dipindahkan ke pot. Setelah itu, pohon hasil tanamnya boleh dibawa pulang.

Anak-anak Anda juga bisa mengunjungi kebun binatang kecil dan naik kuda, atau bermain di taman bermain. Ibu bisa memetik sayuran di kebun sayur, seperti terong dan kacang panjang, sedangkan ayah bisa memancing. Tiket masuk ke taman keluarga ini Rp3.000 per orang, sewa pancing dan umpan Rp6.000, sedangkan sayur hasil petikan dan ikan hasil pancingan ditimbang untuk kemudian dibayar.

by. Liana Garcia

Friday, November 13, 2009

Quo vadis industri pengolahan hasil pertanian

PENDAHULUAN: Salah satu rencana kerja Kabinet Indonesia Bersatu II adalah untuk mempercepat industri pengolahan melambat pada kuartal ketiga 2009. Mulai hari ini, Bisnis menyajikan sebuah isu selama ini menghambat pengembangan industri pengolahan di sektor pertanian. Makalah ini akan disajikan dalam dua artikel mulai hari ini.

Beberapa waktu lalu, Pusat Penelitian Teknologi Pertanian NTB melakukan penelitian di Desa Padamara, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini adalah untuk melihat peran industri pengolahan keripik singkong di ekonomi pedesaan bergerak.

Ada empat hal yang kesimpulan. Pertama, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku dan potensi sumber daya manusia yang tersedia, usaha pengolahan keripik singkong yang berharga. Kedua, dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi daerah, industri pengolahan keripik singkong telah memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan baik dalam penyediaan bahan baku, proses produksi dan pemasaran. Ketiga, peningkatan pendapatan rumah tangga dari pengolahan keripik singkong Rp2, 06 juta per bulan. Keempat, industri pengolahan untuk meningkatkan pendapatan lembaga seperti pelaku pemasaran tukang ojek dan kios makanan.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Pengatahuan (FMIPA UI) juga diadakan upacara peresmian industri pengolahan lidah buaya skala rumah tangga pada 05 Agustus 2008. Acara ini diselenggarakan di Jalan Pendowo Raya No.38 Desa Grogol, Kecamatan Limo, Depok.

Soal kesadaran terhadap pentingnya industri pengolahan hasil pertanian di Indonesia jauh lebih terbatas. Bahkan, setiap tahun, program kerja pemerintah tentang itu, tentang industri sering disebutkan.

Pada tahun 2005, misalnya, Program Revitalisasi Pertanian Pedesaan Melalui Industri Pertanian, Departemen Pertanian Pertanian mengakui Indonesia adalah negara di mana hampir 60% dari penduduk memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Potensi pertanian di daerah, seperti beras, ubi kayu, jagung dan kedelai dan umbi yang besar. Jadi adalah potensi untuk perkebunan dan hortikultura seperti kakao, karet dan teh, mangga, durian, nanas, terlalu besar. Potensi ternak juga tidak kurang besarnya. Potensi ini sejauh ini masih belum bekerja dengan baik, sehingga nilai tambah yang diperoleh adalah manfaat umumnya kecil dan kota.

Nilai tambah komoditas ini dapat ditingkatkan melalui industrialisasi di daerah pedesaan dengan memanfaatkan teknologi dan kekuatan sumber daya alam dan sumber daya manusia desa. Peningkatan nilai ini dapat dilaksanakan melalui pedesaan berbasis pertanian industrialisasi, dan sektor pertanian dapat dianggap sebagai sektor penyangga ekonomi dalam menggerakkan perekonomian.

Tingkat pemerintah setidaknya lima alasan utama mengapa agro-industri pedesaan penting bagi mesin pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan. Pertama, industri pengolahan yang mampu mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif (kompetitif), yang pada gilirannya akan memperkuat daya saing produk agribisnis Indonesia. Kedua, produk memiliki nilai tambah dan pangsa pasar besar sehingga kemajuan dapat mempengaruhi pertumbuhan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Ketiga, memiliki hubungan yang hebat baik untuk hulu dan hilir (keterkaitan ke depan dan ke belakang), sehingga untuk menarik kemajuan sektor-sektor lain. Keempat, basis bahan baku lokal (keunggulan komparatif) yang dapat diperbarui sehingga sustainabilitasnya dijamin. Kelima, memiliki kemampuan untuk mengubah struktur ekonomi nasional dari pertanian ke industri dan agro-industri sebagai motor penggerak.

Jangka panjang

Dengan keunggulan komparatif sumber daya alam di sana dan melihat peluang yang luar biasa lebar, sehingga dalam jangka panjang pengembangan agroindustri nasional mampu membawa Indonesia menjadi Negara Industri Pertanian Baru (NAC).

Di beberapa daerah, potensi industri pengolahan telah dibuktikan. Data Perdagangan, Industri, Koperasi, dan Penanaman Modal (P2KPM) Sleman pada tahun 2008 menunjukkan 14.720 industri kecil di Sleman, sebanyak 5.542 adalah usaha pengolahan hasil pertanian. Nilai produksi tahunan mencapai Rp210 miliar dengan mempekerjakan 14.132 orang. Jenis industri kecil banyak permintaan karena potensi pertanian Sleman banyak dan beragam.

Sebagian besar produk-produk pertanian diolah menjadi produk-produk makanan, seperti penjualan pisang, keripik singkong, sirup salak, dan abon ikan. Pengolahan produk pertanian yang bisa memberikan nilai lebih, setidaknya dua kali lipat, dibandingkan dengan hanya dijual sebagai bahan baku produk pertanian. Melihat besarnya potensi ini, Kabupaten Sleman menyediakan berbagai dukungan, baik dalam bentuk pelatihan dan modal. Tahun ini, 188 calon pengusaha industri kecil pengolahan hasil pertanian akan dipromosikan.

Namun, bangsa ini lalai. Kegiatan agroindustri masih terbelakang. Produk perkebunan sejak zaman Belanda masih berorientasi pada ekspor komoditas primer (mentah).

Pasangan-wakil presiden Mega-Prabowo juga berpikir begitu. Manajemen desain industri pertanian masih belum berubah sejak zaman kolonial, yang menempatkan Indonesia sebagai satu-satunya sumber pemasok bahan baku. Itu sebabnya pasangan Mega-Prabowo kampanye dalam program pada waktu itu, bertekad untuk mengakhiri keterbelakangan ini dengan mengarahkan industri pengolahan sumber daya alam terbarukan, terutama pertanian dan perikanan, untuk dapat menciptakan dan mengeksploitasi semua potensi nilai ekonomi yang dapat diperoleh dari industri ini.

Namun, apa yang telah dilakukan oleh pemerintah selama industri pengolahan pertanian prioritas Apakah gejala, tekad itu, hanya slogan.

Stop input Luar, mungkinkah????

Menanggapi tulisan Al kasambangi.....

Pada tahun 460-360 SM, Demoritus dari Abdera menyebutkan sebuah teori yang sekarang populer disebut sebagai pemikiran filsafat keatoman dari benda atau disebut juga sebagai ekosistem tertutup. Demoritus menyebutkan " Ibu pertiwi ketika dibuahi oleh hujan memberikan kehidupan bagi tanaman untuk makanan manusia maupun hewan. Namun, apa yang datang dari bumi harus dikembalikan ke bumi dan apa yang datang dari udara kembali ke udara. Kematian yang terjadi tidak akan menghancurkan unsur-unsur yang terbentuk, tetapi hanya memecahkan unsur2 tersebut menjadi bentuk lain dan kemudian setelah melakukan kombinasi bisa menghasilkan bentuk lain ".

Pikiran atomik siklik dan rantai tidak tergantikan melalui sistem hewan,tanaman, tanah ini ditenang oleh Aristoteles pada tahun 384-322 SM yang menyebutkan bahwa ada empat komponen tergantikan yang menjadi bahan pembentuk tanaman, yaitu tanah, air, api, dan udara. Menurut beliau, semua benda2 di dunia ini dibuat dari keempat elemen ini. Tanaman menggabungkan partikel2 dari elemen2 ini melalui akarnya yang kemudian menghasilkan bentuk awal dari tanaman.

Pemikiran bahwa makanan tanaman bisa digantikan oleh unsur2 lain dari luar ekosistemnya berkembang pesat ketika Leibig (salah satu tokoh di mata kuliah ekum) mempublikasikan teoi tentang bahan pembentuk tanaman yang kemudian berkembang menjadi teori pemupukan inorganic (sintetik). Teori beliau, menjadi fondasi dari teori nutrisi mineral tanaman yang menjadi pioner dari mentalitas penggunaan pupuk N-P-K (sering dipakai mahasiswa agro untuk penelitian) untuk kesuburan tanaman.

Leibig pada tahun 1840 mempublikasikan bukunya yang berjudul Organic Chemistry in its Application to Agriculture and Physiology. Doktrin dasar buku ini sejalan dengan prinsip "tergantikan" yang diajukan Aristoteles dan menyebutkannya bahwa pupuk inorganik dapat menggantikan kotoran ternak maupun humus untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan produksi tanaman. Teori ini juga kemudian memperkuat kedudukan ahli kimia di dalam upaya meningkatkan produksi tanaman. Pada tahun 1843, dibangun pusat percobaan Rothamsted yang membuktikan bahwa tanaman dapat berproduksi dalam waktu yang lama walaupun hanya menggunakan pupuk inorganik. Teori ini kemudian mendorong perubahan paradigma di dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman secara radikal dari konsep awal yang melihat bahwa pemenuhan makanan tanaman harus dikelola di dalam sebuah kebun, baik dengan proses daur bahan2 sisa yang ada di kebun maupun melalui rotasi tanaman (menjaga kesubuan tanah). Teori ini melahirkan sebuah konsep baru yang menyatakan bahwa kebutuhan makanan tanaman dapat langsung disediakan dan diberikan kepada tanaman.

Prinsip "tergantikan" ini kemudian meluas untuk menggantikan komponen2 lain dari ekosistem pertanian. Ekosistem pertanian yang meliputi tanaman dan seluruh komponen yang berhubungan dengannya (biotik dan abiotik), dalam paradigma ini digantikan oleh bahan2 buatan. Tentu saja, seluruh pergantian ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman yang diinginkan.

Pada dasarnya, produktivitas tanaman tergantung kepada faktor internal tanaman itu sendiri (sifat2 yang ada pada tanaman) dan faktor eksternal yaitu lingkungn tempat tanaman hidup.Faktor internal tanaman beradaptasi dengan faktor eksternal untuk menghasilkan produk. Jika faktor lingkungan mendukung maka tanaman akan dapat berproduksi dengan secara optimal sesuai dengan sifat2nya. Sebaliknya, jika ada faktor penghambat maka tidak akan bisa berproduksi secara optimal. Performa tanaman di alam untuk berproduksi secara perlahan dari waktu ke waktu terperbaiki karena adanya proses adaptasi dan interaksi dari tanaman dengan alam.

Berkembangnya paradigma pertanian dari prinsip mengembalikan ke alam apa yang didapat dari alam ke paradigma baru yang mau menggantikan bahan kebutuhan tanaman dengan bahan2 buatan mendorong berkembangnya industrialisasi bahan2 kimia sintetik yang berhubungan dengan tanaman. Tekonologi kemudian dibangun untuk meningkatkan dan mempercepat proses produksi pertanian sehingga kebutuhan atau tepatnya keserakahan manusia akan produksi tanaman bisa terpenuhi.

Apa yang menjadi janji teknologi untuk meningkatkan produktivitas pangan sehingga kelaparan tidak terjadi dan meningkatkan kesejahteraan petani ternyata tidak terbukti. Hal yang terjadi justru sebaliknya, penggunaan bahan2 kimia sintesis di dunia pertanian ternyata menimbulkan persoalan2 baru sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran air,udara, dan tanah. Kerusakan tanah serta peningkatan serangan hama yang pada akhirnya mengancam keberlanjutan kehidupan manusia di muka bumi. Teknologi yang dikuasai oleh segelentir orang (kapitalis red) melahirkan generasi petani yang tereksploitasi karena tidak lagi memiliki sumber daya lokal alami untuk menjalankan kegiatan pertaniannya. Ini semua membahayakan keberlanjutan kehidupan sehingga perlunya mendorong bangkitnya gerakan perlawanan dengan mengajukan cara bertani alternatif yang bersahabat dengan alam dan menjamin keberlanjutan kehidupan di muka bumi ini.

Allahu A'lam....

revolusi sebatang jerami 1

oleh Habibi Husain (agronomi unhas '04)

REVOLUSI SEBATANG JERAMI
“ Alam Terbuka penuh rahasia “


Setelah membaca sebuah karya tulis yang dibuat oleh seorang Jepang yaitu Masanobu Fukuoka. Ada dua hal yang saya bayangkan dimana kedua hal tersebut mungkin saling bertolak belakang. Hal yang pertama yaitu bahwa Masanobu Fukuoka adalah salah diantara sedikit orang di dunia ini yang masih memikirkan tentang bagaimana paradigma pertanian saat ini telah menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan. Hal kedua yang saya pikirkan dan membuat saya sedikit merasa sedih yaitu “ Apakah masih ada orang Indonesia yang mencintai dunia pertanian dan peduli tentang kelestarian lingkungan dan mau membagi pengetahuan yang dimilikinya kepada anak-anak muda Indonesia seperti saya lewat sebuah buku sehingga saya tidak mesti membaca buku yang ditulis Masanobu Fukuoka, Walaupun saya menyadari buku yang ditulis oleh Masanobu Fukuoka merupakan buku yang sangat menarik dibaca dan kemudian dijadikan bahan refleksi terhadap apa yang telah kita lakukan terhadap alam.
Terlepas dari dua hal tersebut yang sempat memberikan kegelisan-kegelisan. Ada sebuah Hal yang menarik yang dapat jadikan sebagai bahan refleksi dan selanjutnya dapat kita jadikan sebagai modal di dalam melakukan sebuah gerak menuju perubahan sehingga perubahan tersebut akan mendekatkan kita menuju Kesempurnaan-Nya. Hal tersebut yaitu terkadang kita melupakan bahwa alam telah menyiapkan banyak hal untuk dapat kita gunakan untuk dapat terus hidup namun kita kemudian melupakan hal tersebut karena paradigma yang terbangun di dalam pemikiran kita bahwa alam haruslah dikuasai sehingga alam menjadi rusak padahal pada hakekatnya alam merupakan sebuah titipan yang diberikan Tuhan kepada umat manusia sebagai Khalifa-Nya dimana efek yang yang ditimbulkan dari hasrat untuk menguasai alam malah mengakibatkan terjadi kerusakan terhadap lingkungan sehingga umat manusi senidirilah yang harus merasakan akibat dari kerusakan lingkungan yang terjadi akibat keserakahannya sendiri. Bidang pertanian yang merupakan sebuah bidang yang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan dengan alam, ternyata juga menimbulkan efek kerusakan pada alam yang disebabkankan karena didalam menjalankan kegiatan pertanian tidak dilandaskan pada sebuah konsep bahwa alam adalah titipan Tuhan yang mesti dijaga namun yang terjadi malah sebaliknya alam kemudian diekplotasi secara besar-besaran di bidang pertanian dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan pangan umat manusia yang semakin meningkat padahal kebutuhan manusia telah tercukupi padahal hanya keinginan manusia yang dikusai oleh nafsu hingga menyebabkan lingkungang menjadi rusak.
Masanobu Fukuoka yang melihat bahwa kerusakan alam yang dilakukan oleh petani tidak telepas dari konsep pembangunan pertanian yang dicanangkan oleh pemerintah. Hal ini diakibatkan karena kebijakan pemerintah sendiri yang masuk dalam putaran setan kapitalisme dimana jika dianologikan ibarat uang logam yang bersisi dua dimana pemerintah terkadang memberikan penyuluhan terhadap para petani tentang pentingnya bertani tanpa merusak ekosistem yang ada, namun disisi pemerintah pun terkadang memberikan pupuk kimia ataupu penggunaan pestisida kepada petani didalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan bernilai ekonomi tinggi dan terkadang melupakan alam. Tentu kedua hal tersebut menjadi sangat riskan jika renungi bersama-sama. Petani pun terkadang mempunyai pola pikir yang sangat konservatif jika diperhadapkan pada sebuah perubahan tentang cara bertani. Hal ini pun dirasakan oleh Masanobu Fukuoka yang mencoba memperkenalkan tentang cara bertani dengan memanfaatkan alam yaitu jerami yang ternyata sangat efektif didalam meningkatkan produksi pertanian kepada petani namun kurang mendapatkan respon yang positif. Tetapi Masanobu Fukuoka beranggapan bahwa suatu saat metode yang dia gunakan dengan menggunakan jerami suatu saat akan diterima oleh para petani.
Dari apa yang yang telah dilakukan oleh Masanobu Fukuoka kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang menjadi masalah dari kerusakan lingkungan yang terjadi akibat tehnik bertani yang kurang tepat yaitu terlalu banyaknya keinginan manusia yang tidak terpenuhi dan juga bahwa bertani dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam lebih baik jika dibandingkan dengan penggunaan bahan-bahan kimia. Dan juga alam mempunyai kearifan tersendiri yang dapat kita refleksikan bersama dan juga kearifan local yang sebelumnya telah diterapakan oleh para petani kita tidak lupakan seperti tradisi Tudang Sipulung tetap kita pertahankan karena saya berkeyakinan bahwa kita sebagai generase muda saat ini akan tetap mempertahankan semangat Lagaligo / Sewerigading dengan cita-cita setinggi gunung Bawakaraeng sebagaimana Masanobu Fukuoka dengan semangat kearifan lokanya yaitu Samurai/ ataupun bushido-nya dengan cita-cita setinggi gunung Fuji.

Kearifan Lokal: Counter hegemoni Cartesian

MUH SZAIHU AL KASAMBANGI (agronomi unhas '03)


Sangat sulit untuk mengubah paradigma pembangunan pertanian saat ini sepanjang cara pandang kita terhadap alam sekitar tidak kita ubah..mengubah prilaku meniscayakan mengubah cara pikir.

Bermula dari konsep cartesian yang menganggap alam sebagai benda mati biasa yang bebas untuk dieksploitasi, Subjek mengeksploitasi Objek, manusia lebih superior dari alam, implikasi dari cogitu ergo sum..

cara pandang ini kemudian diekspor kemana-mana sehingga menjadi cara pandang dominan di muka bumi ini, lihat saja cara pandang ini sangat kental mewarnai dalam konsep pembangunan pertanian kita dan parahnya dilegitimasi lewat institusi pendidikan, tempat kita kuliah, Fakultas Pertanian, Agronomi.

Petani tidak juga bisa disalahkan atas permasalahan ini, mereka hanyalah korban. Toh sebenarnya petani juga mempunyai konsep yang genuin seperti apa cara pandang mereka terhadap alam (kearifan lokal) seperti masyarakat kajang atau masyarakat baduy, lalu siapa yang latah..

menarik untuk diperhatikan konsep mulla sadra ataupun withehead tentang kesatuan organis alam dan manusia, manusia tidaklah terpisah dari alam, manusia adalah bagian dari alam dan alam adalah bagian dari manusia, mengubah alam berarti mengubah manusia, merusak alam niscaya efeknya akan kembali pada manusia. Filsafat mullah sadra maupun withehead ini sedikit banyak telah dipraktikkan nenek moyang kita sejak dahulu kala, mereka telah melampui pemikiran modern (yang telah sadar) sebelum waktunya.

REVOLUSI SEBATANG JERAMI

oleh : Seniarfan (agronomi unhas '04)
Revolusi sebatang jerami merupakan sebuah karya besar akan semangat besar seorang petani dalam melakukan sebuah perubahan.Walaupun sebenarnya buku ini merupakan cerita masa lalu yang terjadi dijepang. Buku ini memberikan recovery bagi para pembaca akan situasi pembangunan pertanian ditengah arus globalisasi saat ini sebagai sebuah refleksi kritis akan masa lalu dan hari ini. Berangkat dari sebatang jerami harapan besar tersebut muncul sebagai keprihatinan para petani terhadap kondisi pertanian yang digilas oleh zaman.
Jerami merupakan sisa panen dari tanaman padi yang punya banyak manfaat. Selain bisa menjadi bahan organic setelah mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme dalam tanah untuk kemudian diolah menjadi pupuk organic juga beguna sebagai pakan ternak dan bahan industry pabrik. Penulis pun sepakat jika sebatang jerami tersebut dianggap sebagai sebuah revolusi kemanusiaan yang dapat terjadi dan menggerakkan negara dan dunia. Dalam hal ini, kita bisa lihat realita yang ada, dimana peledekan penduduk yang semakin meningkat membutuhkan ketersediaan pangan yang cukup. Belum lagi, paradigma pembangunan modern yang ada sekarang menekankan pada efisiensi dan efektifitas akan pemenuhan kebutuhan pangan tersebut. Sehingga pertumbuhan produksi akan ketersediaan pangan adalah prioritas utama yang tidak lagi memperhatikan sisi keberlanjutannya. Selama beberapa waktu tujuan tersebut memang tercapai dengan gemilang, ini bisa lihat tahun 1960-an yang biasa disebut dengan Revolusi Hijau. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah berbagai masalah yang kemudian menyusulnya, seperti ketergantungan petani pada input dari luar yang tinggi (Bibit, pupuk kimia), resistensi hama dan penyakit, dan berkembangnya beberapa permasalahan sosial dipedesaan (kesenjangan ekonomi, perubahan fungsi institusi tradisional, dsb).
Pemanfaatan jerami memberikan kita pembelajaran yang berharga akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Seperti yang dikatakan Mahatma Gandi bahwa “ Alam akan mampu memenuhi kebutuhan bagi manusia tapi tidak untuk yang serakah “. Penulis mengira hal tersebut sangat penting untuk diteriakkan kepada para penguasa yang hanya cenderung melakukan eksploitasi terhadap alam untuk meningkatkan produksi tanpa mengabaikan sisi ekologisnya. Belum lagi, kebijakan dari pemerintah terhadap sector pertanian yang malah tambah menyusahkan rakyat. Seharusnya perubahan dalam dunia pertanian berangkat dari akumulasi pemikiran para petani sebagai pelaku utama yang sesuai dengan kondisi sosial budaya yang ada.
Pembangunan suatu negara harusnya mencerminkan kesejahteraan mayoritas penduduk Negara itu, apalagi ketika mayoritas tersebut seperti di negara-negara berkembang adalah petani. Jadi negara berkembang harus mengutamakan pembangunan pertanian seperti di negara kita ini Indonesia. Namun dalam hal ini produktivitas bukanlah hal yang satu-satunya focus seperti yang terjadi dimasa lalu. Hal terpenting yang harus di lakukan adalah memperkuat basis pertanian domestic dengan spirit lokalitas yang antara lain menurut Loekman dalam bukunya “ Globalisasi Pertanian “ adalah dengan cara melindungi hak petani atas air dan bibit, menjadikan pengetahuan local masyarakat petani sebagai sentral pembangunan pertanian. Selain itu yang juga menarik adalah disarankannya pola pertanian organic sebagai alternative dari pola pertanian konvensional yang selama ini dilakukan.
Maka dari itu, sesuai motto petani tua : “ perlakukanlah seikat jerami itu sebagai yang penting dan jangan mengambil satu langkah pun yang tidak berguna “ mengingatkan kita semua akan sebuah usaha untuk membangun pertanian masa depan yang mungkin dari kita sebagai mahasiswa bisa dimulai dari ruang-ruang kuliah. Satu tekad, satu jiwa, jayalah Pertanian !!!