Categories

Sunday, November 29, 2009

Microbial Ecology - Biological Safety / Soil Ecology


For safety assessment of released genetically modified organisms (GMO) into the environment, the central issue is a putative transfer of the recombinant DNA (rDNA) into indigenous microorganisms (MO) of the respective habitat. Conjugation is considered to be the most efficient mechanism of gene transfer between bacteria. For the probability assessment of conjugal gene transfer subsequent to the release of GMO it is necessary to determine the rDNA mobilizing potential of a bacterial population. Hence, the aim of our project is to analyze the gene mobilizing potential of microorganisms in the nutrient-rich habitat activated sludge. To this end, conjugative plasmids of endogenous microorganisms are currently isolated and genetically characterized. Furthermore, gene transfer is being studied in the laboratory in model sewage plant.
The soil compartment that is directly influenced by plant roots, the rhizosphere, is a place of enhanced microbial activity. Microbial populations of the rhizosphere may have a neutral, negative (e.g. for pathogens), or positive (e.g. for associated or symbiotic nitrogen fixers) impact on plant growth. When transgenic plants are released for agricultural purposes, e.g. plants that are resistent to pathogenic microorganisms, the question has to be addressed concerning the influence of the transgene expression on plant growth promoting microbial populations in the important habitat "rhizosphere". The aim of our project is the competitive analysis of the microbial rhizosphere population of alfalfa and rape seed and their genetically modified derivatives expressing chitinase, lysozyme and defensins. Probable differences of the diversity of microorganisms will be studied with molecular typing methods such as ARDRA (amplified ribosomal DNA restriction analysis).
Bacterial insertion elements (IS elements) are mobile genetic elements that are able to change their position within the genome of their host organism. If IS elements transpose onto a conjugative plasmid they can be transfered together with this plasmid to a new host organism. The rhizosphere of a plant is a favourable place for genetic interactions between rhizosphere bacteria. The aim of this project is to analyze the distribution of selected Sinorhizobium meliloti IS elements in bacterial rhizosphere populations and hence to gain information on the potential gene flow in this habitat.
Soil bacteria in there natural habitat have to stand mainly famine conditions. Short periods of nutrient excess are followed by longer periods of nutrient shortage. Non-sporulating bacteria can manage such changing conditions by entering the stationary phase. To this end, a genetic program is started that enables the cells to survive these harsh conditions. In particular for soil bacterial of the genus Rhizobium the underlying mechanisms for famine adaptation are more or less unknown. We therefore aim to identify and characterize genes important for the survival of S. meliloti under stationary phase conditions.

bisnis online semakin marak

bisnis online semakin banyak diperbincangkan oleh para netters di segala penjuru dunia. bagaimana tidak hanya dengan langkah-langkah sederhana kepingan dollar masuk ke dalam lumbung duit kita. informasi ini saya kirimkan bagi kawan-kawan sesama netters, dibanding hanya browsing kiri-kanan, atau hanya blog walking saja mending kita buka usaha dari web atau blog yang kita punya.
berikut saya tawarkan trik-trik jitu untuk dapat meraup keuntungan di dunia maya. Klik Link dibawah untuk mendapat solusi-solusi cerdas dalam bisnis online.

Agriculture will Shines

Growth Prediction BI 5.22%
MANADO- Indonesia Bank(BI) Manado, not arrogant, but very sure Flammable agricultural commodities, so the mainstay of economic drivers Flammable. This sector is estimated to be growing in the range 4.72% to 5.22%. Head of Bank Indonesia Economic Monetary Manado Samuel Mandagi see that growth is based on the production of various agricultural commodities is still good Flammable. Dry season that lasted until now have not affect the overall agricultural production such as horticulture, food and spices. "There's drought affected commodities, but there are still many who continue to produce the maximum," said Mandagi.
Data for 2008, growth in agriculture in 2008 and approximately 4.21 percent, and far greater than in 2007 at the rate 1.55 percent.
Head of Agriculture and Livestock Flammable, Ir Rotinsulu Herry said, the contribution of agriculture to economic growth remained high. Although reduced because of drought, local farmers keep production going, even with a stable production rates. "Prospects remain bright agriculture, commodities produced for the basic needs of people who have purchased, so certain agricultural growth continued to grow until the end of the year," said Rotinsulu.
Special commodity corn, continued Herry, no decrease in production, because farmers who grow the month of August, most experienced crop failure due to drought. The difference is they are planted earlier, capable of producing high production. (Sky / ham)

Friday, November 27, 2009

Menteri Pertanian Canangkan Proyek Tepung Kasava di Trenggalek

TEMPO Interaktif, TRENGGALEK - Menteri Pertanin Suswono, Selasa (24/11) dijadwalkan akan mencanangkan percepatan produksi tepung nasional melalui proyek tepung kasava di Trenggalek siang ini. Perwakilan petani dari 18 provinsi ikut serta dalam pencanangan tersebut.

Juru bicara Pemerintah Kabupaten Trenggalek Yoso Mihadi mengatakan acara pencanangan akan dilaksanakan di Lapangan Karangan. Kabupaten Trenggalek dipilih menjadi lokasi pencanangan karena memiliki cukup banyak usaha kecil menengah di bidang pembuatan tepung kasava.

Tepung kasava merupakan alternatif sumber karbohiodrat yang kerap dipenuhi dari beras dan terigu. Melalui teknologi vermentasi, masyarakat bisa menciptakan tepung berbahan dasar singkong yang banyak ditemukan di pedesaan. Komoditas ini diyakini bisa menggeser peran terigu yang banyak dimanfaatkan untuk pembuatan kue dan makanan lainnya. "Kami bekerjasama dengan peneliti Universitas Jember untuk menciptakan enzim khusus," kata Yoso kepada Tempo.

Saat ini Departemen Pertanian mentargetkan penggunaan tepung kasava sebesar 5 - 20 persen untuk menggantikan tepung terigu. Dengan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap terigu sebagai bahan dasar pembuatan mie instan, roti, dan kue lainnya, diharapkan penggunaan tepung kasava akan mampu mendongkrak pendapatan petani singkong. HARI TRI WASONO.

Sektor Pertanian Diminta Keluar Dari WTO

Sebab, sektor pertanian adalah sektor paling utama untuk negara agraris seperti Indonesia.



VIVAnews - Pemerintah Indonesia didesak untuk mengeluarkan sektor pertanian dari putaran Doha saat Konferensi Tingkat Menteri (KTM) World Trade Organization (WTO).

Menurut Sekretaris Jendral Aliansi Gerakan Reformasi Agraria (Agra) Erpan Faryadi, pemerintah Indonesia dan negara berkembang lainnya harus mampu melepaskan sektor pertanian dari perundingan WTO. Pasalnya, sektor pertanian merupakan sektor paling utama untuk negara agraris seperti Indonesia.

"Kalau ini masuk terlalu besar pertaruhan untuk kepentingan negara, kita harus selalu mendesak pemerintah Indonesia agar sektor pertanian dikeluarkan dari perundingan WTO," kata Erpan saat konferensi pers tentang WTO di Jakarta, Selasa, 24 November 2009.

Erpan memandang, perjanjian tentang sektor pertanian sangat merugikan bagi mayoritas petani negara-negara berkembang, terutama dalam soal tarif, serta pemberian subsidi untuk para petani.

Dengan tidak adanya dua fasilitas tersebut, hasil industri pertanian negara berkembang akan sangat sulit untuk bersaing dengan negara maju.

Selain sektor pertanian, sektor lain yang juga penting adalah industri dan jasa. Namun, secara skala prioritas, sektor pertanian jauh lebih penting ketimbang dua sektor tersebut mengingat 48 persen penduduk Indonesia menggantungkan hidup dari pertanian.

Lebih lanjut, Erpan menilai krisis keuangan saat ini yang terjadi merupakan momentum yang tepat bagi negara berkembang untuk menghentikan putaran Doha.

Sementara itu, peneliti senior Instituted of Global Justice (IGJ) Bonnie Setiawan menilai saat ini, WTO sudah keluar dari tujuan awalnya yaitu sebagai organisasi yang mengatur perdagangan bebas dengan menghilangkan dan mengurangi hambatan-hambatan perdagangan seperti tarif dan non tarif.

"Kita harapkan WTO hanya mengurusi mengenai perdagangan barang saja tidak mengenai hal lain seperti pertanian dan HaKI (hak atas kekayaan intelektual)," ujarnya.

Bonnie memandang, selama ini WTO telah jauh melangkah dengan mulai mengurusi berbagai kebijakan yang jauh dari kekuasaannya dan keluar dari tujuan awal. Selain itu, WTO sangat memiliki ketidak adilan karena lebih memihak kepada negara maju.

"WTO bukan hanya rezim yang membuka pasar, namun juga merupakan rezim yang membuka investasi. Investasi merupakan masuknya intensitas asing ke negara lemah. Salah satu kebijakan WTO yaitu HAKI yang meneriakkan hak paten hanya mampu digunakan oleh industri dan negara kuat, yang tidak mungkin dimiliki negara lemah atau usaha  kecil karena biaya yang cukup tinggi, ini kebijakan yang tidak adil," ujarnya.

Selain itu, Putaran Doha yang juga direncanakan dapat selesai pada 2010 ini sangat tidak menguntungkan bagi Indonesia. Sebab, Putaran Doha membahas dua hal yang sangat urgen yaitu penghapusan subsidi dan pembukaan pasar.

"Kita berharap Indonesia mampu membuat WTO banting stir untuk membeli negara berkembang, dengan kekuasaan saat ini sebagai wakil pemimpin sidang dalam pertemuan KTM WTO mendatang," katanya.

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengaku untuk mengeluarkan sektor pertanian dari putaran Doha sangat tidak mungkin. "Dalam negoisasi tidak mungkin satu sektor dikeluarkan, kita harus catat untung ruginya," tuturnya.

antique.putra@vivanews.com

Wednesday, November 25, 2009

AGROPOLITAN (?)

Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di perdesaan pada umumnya masih tertinggal jauh dibandingkan mereka yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini merupakan konsekuensi dari perubahan ekonomi dan proses indutrialisasi, dimana investasi ekonomi oleh swasta maupun pemerintah cenderung terkonsentrasi di daerah perkotaan. Selain itu kegiatan ekonomi yang dikembangkan di daerah perkotaan masih banyak yang tidak sinergis dengan yang dikembangkan di daerah perdesaan. Akibatnya, peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan perdesaan, justru memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan perdesaan.

Oleh karena itu, dalam konstelasi kota-kota dewasa ini, semestinya kawasan perdesaan semakin diperhitungkan keberadaannya. Daripada menganggap desa dan kota sebagai suatu dikotomi, akan lebih sesuai untuk menjelaskan desa-kota sebagai sebuah fenomena yang bertautan, di mana masyarakat di dalamnya secara bersama memecahkan masalah kemiskinan, perkembangan ekonomi, dan lingkungan yang berkelanjutan.

Desa-kota (rural-urban) dalam perspektif spasial merujuk pada suatu daerah periurban yang muncul akibat adanya perluasan pembangunan pada daerah kota yang sebelumnya merupakan suatu daerah desa. Fenomena desa-kota dapat dilihat di daerah pinggiran kota (urban-fringe), seperti halnya di Kecamatan Kartasura sebagai perbatasan Kota Solo dengan Kabupaten Sukoharjo, atau Kecamatan Depok sebagai perbatasan Kota Yogyakarta dengan Kabupaten Sleman. Di daerah semacam ini potensial sekali terjadi proses transformasi spasial dan sosio-ekonomik wilayah yang mengakibatkan peningkatan kegiatan ekonomi yang relatif cepat dari pertanian ke non pertanian; perubahan pemanfaatan lahan ke arah perumahan urban, industri dan non pertanian lainnya; peningkatan kepadatan penduduk; serta kenaikan harga lahan yang tanpa dibarengi adanya instrumen pengendalian yang memadai.

Maka, untuk mencegah disparitas, hyperurbanization, dan menjaga kawasan perdesaan tetap sebagai derah penyangga bagi perkotaan, selama beberapa dekade terakhir telah berkembang pemikiran-pemikiran tentang konsep pembangunan desa-kota yang terintegrasi. Salah satu yang termutakhir adalah pendekatan agropolitan yang dikemukakan oleh John Friedmann—seorang planolog dari Amerika. Pendekatan ini juga merupakan sumbangan pemikiran baru dalam perkembangan konsep-konsep perencanaan kota, yang telah dimulai dari konsep-konsep Peter Kropotkin dan Ebenezer Howard yang utopianis, sampai Lewis Mumford, Frank Llyod Wright dan Mao Ze Dong dengan konsep-konsep kotanya yang revolusioner dan reformis.

Secara harfiah, agropolitan (agro = pertanian ; politan = kota) adalah kota pertanian yang mampu memacu berkembangnya sistem dan usaha agribisnis, sehingga dapat melayani, mendorong, menarik, dan menghela kegiatan pembangunan pertanian di wilayah sekitarnya. Konsep agropolitan mencoba untuk mengakomodasi dua hal utama, yaitu menerapkan sektor pertanian sebagai sumber pertumbuhan ekonomi utama dan diberlakukannya ketentuan-ketentuan mengenai otonomi daerah. Secara garis besar konsep agropolitan mengetengahkan prinsip-prinsip sebagai berikut :

· Sebuah modul kota dasar (basic urban module) yang terdiri dari distrik-distrik otonom, yang dibangun pada kawasan desa berkepadatan tinggi atau kawasan peri urban, dengan populasi sebesar 10.000-15.000 jiwa yang tersebar di area seluas 10-15 km2.

· Setiap distrik memiliki pusat pelayanan yang dapat diakses dengan mudah dari segala penjuru di distrik tersebut, baik dengan kaki maupun sepeda, selama 20 menit atau kurang.

· Setiap pusat pelayanan memiliki komplemen pelayanan dan fasilitas publik terstandarisasi.

· Dipilih satu distrik pusat (area desa-kota yang telah mengalami transformasi spasial paling besar) untuk dibangun agroindustri terkait.

· Lokasi dan sistem transportasi di wilayah argoindustri dan pusat pelayanan harus memungkinkan para petani untuk menglaju (commuting).

· Distrik-distrik dikembangkan berdasarkan konsep perwilayahan komoditas yang menghasilkan satu komoditas atau bahan mentah utama dan beberapa komoditas penunjang sesuai kebutuhan.

· Setiap distrik didorong untuk membentuk satuan usaha yang optimal dan selanjutnya diorganisasikan dalam wadah koperasi, perusahaan kecil dan menengah.

· Industri manukfatur kecil harus terdistribusi di tiap distrik dan di sepanjang jaringan jalan utama.

Kunci untuk menuju keberhasilan pembangunan agropolitan ini yaitu dengan memberlakukan setiap distrik agropolitan sebagai unit tunggal otonom mandiri, dalam artian selain menjaga tidak terlalu besar intervensi sektor-sektor pusat yang tidak terkait, juga dari segi ekonomi mampu mengatur perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pertaniannya sendiri, tetapi terintegrasi secara sinergik dengan keseluruhan sistem pengembangan wilayahnya.

Dengan konsep agropolitan yang terimplementasikan dengan baik, maka kita akan dapat menjumpai wilayah perdesaan yang modern dan maju tanpa harus ‘mengkota’, tetap bisa melihat landscape ijo royo-royo sebagai penyeimbang kota yang semakin polusi, dan tentunya masih bisa menikmati nasi, sayur, dan lauk pauk hasil bumi pertiwi kita sendiri dalam menu makan siang kita… ^_^ [PS]

Meski Negara Agraris, Indonesia Sulit Capai Kedaulatan Pangan

Meski dijuluki sebagai negara agraris, namun hingga kini Indonesia masih kesulitan untuk mencapai kedaulatan pangan. Ini ditandai dengan banyaknya produk pertanian yang masih mengandalkan produk luar negeri. Padahal sebagai negara agraris dengan kekayaan alamnya, seharusnya dapat mendukung pencapaian swasembada segala produksi pertanian.
“Sampai sekarang kita masih mengimpor beberapa komoditi, ini membuat kita menjadi ketergantungan. Meskipun kita impor, tapi seharusnya didukung dengan persediaan atau ketahanan pangan di dalam negeri,” ujar Ketua Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) Edison Purba kepada MedanBisnis, Jumat (30/10).
Menurutnya, kedaulatan pangan itu sangat dibutuhkan dengan didukungnya perhatian pemerintah akan nasib petani serta jaminan harga. Selain itu, dukungan teknologi guna meningkatkan produksi pertanian. “Selama ini hasil produksi kita didikte oleh pasar luas, hingga tidak bisa menentukan harga sendiri meskipun kita yang punya produk,” ucapnya yang juga Ketua Perhimpunan Agronomi Indonesia Sumut.
Kemajuan teknologi pertanian ini, lanjut Edison dapat dicapai dengan memanfaatkan para penelitian di dunia pendidikan serta pihak-pihak industri yang selama ini masih kurang sinkron. Indonesia sebagai negara agraris tidak bisa mengasingkan diri dari perkembangan teknologi bidang pertanian, sebab untuk memenuhi kebutuhan pangan diperlukan jumlah bahan pangan yang cukup dan dapat dijangkau masyarakat.
“Dengan bioteknologi pertanian merupakan salah satu pencapaian kualitas dan kuatitas hasil pertanian serta pendapatan petani,” kata Edison.
Bioteknologi pertanian, tambah Ketua Komunikasi Bioteknologi Sumut ini, telah dikomersialisasi sejak 1996 tapi di Indonesia sendiri ini belum dijalankan. Adopsi bioteknologi bidang pertanian secara global menunjukkan angka yang terus meningkat secara signifikan.
Untuk 2008 tanaman biotek telah ditanami seluas 125,8 juta hektar atau naik 9,4% dari tahun sebelumnya yang mencapai 114,3 juta hektar. Tanaman biotek telah diadopsi di 25 negara dan sekitar 12 juta petani di dunia telah menanam berupa kedelai, jagung, kapas dan kanola.
“Peningkatan ini terjadi karena tanaman biotek memberi keuntungan ekonomi lewat hasil produsksi perhektar yang tinggi, biaya pestisida rendah dan menghemat waktu kerja,” sebutnya.

*yuni naibaho

Mengenali Ragam Buah di Taman Wisata Mekarsari

Bogor - Ingin mengenali aneka jenis buah-buahan yang ada di Indonesia? Coba ajak keluarga Anda ke Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor.

Lokasi wisata ini boleh dibilang sangat cocok untuk mengenalkan keanekaragaman hayati (plasma nutfah) buah-buahan tropis terbesar di dunia, khususnya jenis buah-buahan unggul yang dikoleksi dari seluruh daerah di Indonesia.

Taman wisata yang diresmikan sejak 1995 itu juga melakukan penelitian budidaya (agronomi), pemuliaan (breeding) dan perbanyakan bibit unggul untuk kemudian disebarluaskan kepada petani dan masyarakat umum.

Di atas tanah seluas 264 hektare ini juga dilengkapi sarana wisata untuk wisatawan nusantara maupun mancanegara. Wisata di tengah taman buah didukung berbagai wahana yang mendekatkan pengunjung kepada alam, seperti: Family Garden, Rekreasi Danau (20 ha), Baby Zoo, Rusa Tutul, Garden Center, Greenhouse Melon, Outbound, Bunga Bangkai, Kids Fun Valley, Menara Pandang, dan Bangunan Air Terjun (Puri Tirto Sari).

Sejumlah kegiatan yang menjadi favorit pengunjung antara lain: company gathering, piknik keluarga, wisata petik buah dan sayur, barbeque, senam pagi, dan fruitwalk (jalan-jalan di kebun buah).

Untuk masuk ke Taman Wisata Mekarsari, Anda hanya diwajibkan membayar tiket masuk seharga Rp10.000 untuk dewasa dan Rp 9.000 untuk anak-anak. Adapun untuk berkeliling melihat seluruh fasilitas kebun buah, Anda bisa menggunakan kereta keliling dengan membayar Rp3.000/orang.

Dengan kereta itu, Anda dan anak boleh berhenti di tempat-tempat wisata yang diinginkan dan melanjutkan perjalanan dengan kereta berikut tanpa dipungut bayaran lagi. Jika kebun buah yang didatangi sedang panen, pengunjung boleh membeli dengan memetik langsung buah di pohon. Sementara jika sedang tidak panen atau lewat waktu panen, pengunjung bisa membeli buah di kios yang ada di kebun atau di toko buah di areal Graha Krida Sari (gedung pusat informasi).

Taman Buah Mekarsari menyediakan fasilitas belajar menanam bagi anak-anak. Anak akan diberi satu pot, media tanam, alat-alat menanam, dan pohon yang akan ditanam. Anak akan diajarkan bagaimana pohon yang ada di kantong tanam plastik (polybag) dipindahkan ke pot. Setelah itu, pohon hasil tanamnya boleh dibawa pulang.

Anak-anak Anda juga bisa mengunjungi kebun binatang kecil dan naik kuda, atau bermain di taman bermain. Ibu bisa memetik sayuran di kebun sayur, seperti terong dan kacang panjang, sedangkan ayah bisa memancing. Tiket masuk ke taman keluarga ini Rp3.000 per orang, sewa pancing dan umpan Rp6.000, sedangkan sayur hasil petikan dan ikan hasil pancingan ditimbang untuk kemudian dibayar.

by. Liana Garcia

Monday, November 23, 2009

DINAMIKA FKK-HIMAGRI

Pertemuan Nasional I (Masa Bakti 1984-1986)

Pada tanggal 22-25 November 1984 di Kampus Baranangsiang Institut Pertanian Bogor, dilangsungkan sebuah Pertemuan Nasional (Pertama) Mahasiswa Agronomi Indonesia yang bertujuan untuk membahas masalah tentang komunikasi dan kerjasama dalam mencari wadah Mahasiswa Agronomi tingkat Nasional. Beberapa keputusan yang dihasilkan dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Agronomi Indonesia, 22-25 November 1984 adalah disepakati pembentukan Forum Komunikasi dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (FKK HIMAGRI), tepatnya pada tanggal 25 November 1984, pembentukan Badan Pelaksana, yaitu a) Biro Pusat Informasi dan Kerjasama (BPIK) yang dijabat oleh Himpunan Mahasiswa Agronomi Institut Pertanian Bogor, b) Koordinator Bidang Informasi (KBI) dipercayakan kepada Ikatan Mahasiswa Agronomi Universitas Gadjah Mada, dan c) Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat (KBPM) dipercayakan kepada Himpunan Mahasiswa Agronomi Universitas Tidar Magelang. Kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Badan Pelaksana disepakati selama 2 (dua) tahun dan setelah itu akan diadakan kembali Pertemuan Nasional Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia.

Pertemuan Nasional II (Masa Bakti 1986-1988)

Kepengurusan FKK HIMAGRI periode 1986-1988 dimulai dengan penyelenggarakan Pertemuan Nasional II FKK HIMAGRI di Kampus Air Tawar Universitas Andalas Padang pada tanggal 10-12 Februari 1986. Dalam Pertemuan Nasional II FKK HIMAGRI ini disepakati a) Penetapan Aturan Umum dan Aturan Khusus (AU&AK) dan b) Penetapan Badan Pelaksana yaitu Koordinator Bidang Informasi oleh Himagron IPB, Koordinator Tingkat Wilayah (KTW) yang berfungsi untuk memudahkan koordinasi dan kerjasama serta mengatasi hambatan geografis, Menetapkan Program Kerja FKK HIMAGRI Periode 1986-1988, dan Terbitnya Buletin FKK HIMAGRI oleh Himagron IPB.

Pertemuan Nasional III (Masa Bakti 1988-1990)

Untuk persiapan Pertemuan Nasional III FKK HIMAGRI maka diadakan Pra Pertemuan Nasional pada tanggal 12-13 Desember 1987 di Cipayung Bogor. Setelah dilaksanakannya Pra PERNAS, maka diadakan Pertemuan Nasional III FKK HIMAGRI yang dilaksanakan pada tanggal 9-17 September 1988 di Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Pada periode sebelumnya tampuk pimpinan FKK HIMAGRI dijabat oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Agronomi pada institusi yang dimandatkan menjadi Koordinator Bidang Informasi, yaitu pada Pertemuan Nasional I tahun 1984 di IPB Bogor dan PERNAS II tahun 1986 di Padang. Pada Pertemuan Nasional III FKK HIMAGRI ini terpilih menjadi Biro Pusat FKK HIMAGRI adalah Himpunan Mahasiswa Agronomi Institut Pertanian Bogor dengan masa bakti 1988-1990. Biro Pusat FKK HIMAGRI telah berhasil mengambil beberapa kebijakan seperti: Pengadaan Desa Mitra Kerja dan Penerbitan Buletin FKK HIMAGRI. Perjalanan ketiga periode kepengurusan FKK HIMAGRI ternyata sudah cukup kuat bagi FKK HIMAGRI untuk mendapatkan pengakuan dari Lembaga Pendidikan Pemerintah sebagai salah satunya wadah bagi mahasiswa Agronomi di Indonesia dengan keluarnya pengukuhan Surat Keputusan DIKTI NO:025/DIKTI/KEP/1990 tentang Pengukuhan Forum Komunikasi Dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (FKK HIMAGRI) Sebagai Satu-Satunya Wadah Tingkat Nasional Bagi Mahasiswa Agronomi. Surat Keputusan ini terbit pada tanggal 14 April 1990. Memasuki penghujung akhir kepengurusannya Biro Pusat FKK HIMAGRI mengadakan suatu Musyawarah Kerja di Kampus Baranangsiang IPB pada tanggal 8-10 Februari 1990.

Pertemuan Nasional IV (Masa Bakti 1990-1992)

Kemudian pada tanggal 10-14 Oktober 1990 diadakan Pertemuan Nasional IV FKK HIMAGRI yang dilaksanakan oleh Universitas Hasanuddin Ujung Pandang, dalam Pertemuan Nasional IV tersebut telah disepakati tentang Lambang, Bendera, dan Mars FKK HIMAGRI. Himpunan Mahasiswa Agronomi Institut Pertanian Bogor untuk yang ke-empat kalinya dipercayakan sebagai Biro Pusat FKK HIMAGRI untuk masa bakti 1990-1992. Adapun kebijakan-kebijakan yang diambil antara lain: penerbitan Buletin, Seminar, Festival Tanaman, dan Desa Mitra Kerja. Pada tanggal 18 -23 Februari 1992 di IPB diadakan Musyawarah Kerja sebagai upaya untuk persiapan Pertemuan Nasional V FKK HIMAGRI.

Pertemuan Nasional V (Masa Bakti 1992-1994)

Pesta Akbar kelima Pertemuan Nasional V FKK HIMAGRI dilaksanakan pada tanggal 12-17 Oktober 1992 di Universitas Wijaya Kusuma, Surakarta. Untuk pertama kalinya posisi Biro Pusat FKK HIMAGRI keluar dari Pulau Jawa, dimana untuk posisi Biro Pusat FKK HIMAGRI masa bakti 1992-1994 dipercayakan kepada Universitas Hasanuddin Ujung Pandang. Pada masa kepengurusan ini telah berhasil diterbitkan Buku Sejarah FKK HIMAGRI dan dilaksanakannya TOPMA (Training Organisasi Profesi Mahasiswa Agronomi). Menjelang akhir kepengurusan, maka pada tanggal 1-6 Februari 1994 dilaksanakan Musyawarah Kerja Nasional di Universitas Hasanuddin Ujung Pandang.

Pertemuan Nasional VI (Masa Bakti 1994-1996)

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta kembali menggelar Pertemuan Nasional VI FKK HIMAGRI sebagai upaya kelanjutan roda organisasi yang dilaksanakan pada tanggal 16-23 Oktober 1994. Dalam Pertemuan Nasional VI ini, jabatan Biro Pusat FKK HIMAGRI kembali pindah ke Jawa dengan dipilihnya Ikatan Mahasiswa Agronomi Universitas Gadjah Mada sebagai Biro Pusat FKK HIMAGRI periode 1994-1996. Beberapa kegiatan yang berhasil dilaksanakan antara lain adalah kunjungan kelembagaan ke beberapa Departemen/ Lembaga/ Organisasi profesi lainnya dengan melibatkan sejumlah Koordinator Tingkat Wilayah, menyusun Draf Panduan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), dilaksanakannya Pra Pertemuan Nasional dan Kaderisasi FKK HIMAGRI tanggal 26-30 Maret 1996 di UGM, Pameran Produksi Pertanian Nasional dan Inventarisasi Plasma Nutfah di IPB Bogor tanggal 31 Maret hingga 3 April 1996 dan Kemah Bakti Nasional Mahasiswa Agronomi Indonesia pada tanggal 4-6 Maret 1996 di Universitas Djuanda, serta penerbitan Warta HIMAGRI.

Pertemuan Nasional VII (Masa Bakti 1996-1998)

Untuk kedua kalinya Pulau Sumatera menjadi arena Pertemuan Nasional VII FKK HIMAGRI dengan dipercayakannya tuan rumah pada Universitas Islam Sumatera Utara (UISU Medan) sebagai pelaksana PERNAS VII FKK HIMAGRI yang diselenggarakan pada tanggal 14-17 Oktober 1996. Pada Pertemuan Nasional VII FKK HIMAGRI ini posisi Biro pusat FKK HIMAGRI dipercayakan kepada Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) untuk masa bakti 1996 – 1998. Pada masa kepengurusan tersebut, Biro Pusat mengambil beberapa kebijakan yang tertuang dalam 3 (tiga) kebijakan umum organisasi yang dibagi dalam dua semester yaitu Semester I) Pembenahan dan Konsolidasi Organisasi dan II) Pengembangan dan Pemantapan Program Kerja. Ketiga kebijakan umum tersebut adalah meliputi: Pembenahan Organisasi, Pemberdayaan Koordinator Tingkat Wilayah serta Reorientasi Kegiatan. Ketiga kegiatan tersebut sebagian besar dapat diaktualisasikan pada program kerja FKK HIMAGRI diantaranya : Konsolidasi dan Koordinasi dengan KTW-KTW, Kuliah Umum Agronomi, Seminar Nasional, TOPMA, Agro Fair, Pengabdian kepada Masyarakat, Pemanfaatan Lahan Tidur, Pembuatan Kebun Holtikultura dan pemberdayaan Koordinator Tingkat Wilayah FKK HIMAGRI dengan memberikan wewenang penuh terhadap KTW untuk mengembangkan wilayahnya masing-masing.

Pertemuan Nasional VIII (Masa Bakti 1999-2001)

Pada bulan Februari 1999, bertempat di Universitas Haluoleo Kendari dilangsungkan Pernas VIII. Pernas ini menghasilkan beberapa keputusan, antaranya pendeklarasian Biro Alumni dengan rekomendasi pembentukan kepengurusannya serta pengesahannya pada KBNMAI (Kemah Bakti Nasional Mahasiswa Agronomi Indonesia) di Sumatera Barat, juga penunjukan Universitas Hasanuddin sebagai pelaksana TOPMA tingkat Nasional tahun 2000, disamping terpilihnya tuan rumah Unhalu sebagai Biro Pusat periode 1999-2001, dengan sekjennya Sarus. Ditetapkan pula Universitas Sriwijaya Pelembang sebagai penyelenggara Pernas IX tahun 2000.

Pertemuan Nasional IX (Masa Bakti 2001-2003)

Pada Pernas IX tahun 2001 yang diadakan di Universitas Sriwijaya Palembang dihasilkan beberapa keputusan baru dengan dibentuknya Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) yang pada saat itu Saudara Idrus Aziz dari Himagro Universitas Tadulako terpilih sebagai Ketua umum yang pertama. Selain itu juga diputuskan Program pendampingan masyarakat tani untuk tiap institusi yang bernama Desa Mitra Kerja (DMK). Dan diputuskan sebagai Sekretaris Jenderal FKKHIMAGRI periode 2001-2003 adalah saudara Yaser Amrullah Mubarak dari IPB Bogor.

Pertemuan Nasional X (Masa Bakti 2003-2005)

Pada bulan maret 2003 kembali diadakan Pertemuan Nasional X (Pernas X) di Malino, Makassar, Sulawesi Selatan oleh Universitas Muslim Indonesia Makassar (UMI Makassar) sebagai pengemban amanah Pernas IX di Palembang. Dalam Pernas X ini dihasilkan beberapa keputusan diantaranya dihapuskannya Biro Alumni yang pasif selama beberapa tahun terakhir. Selain itu atas desakan dan keluhan persoalan waktu dari tiap institusi akan pelaksanaan TOPMA NASIONAL yang hanya sekali dalam satu periode, maka diputuskan untuk periode 2003-2005, TOPMANAS dilaksanakan sebanyak dua kali dan daerah yang ditunjuk untuk mengadakan TOPMANAS adalah Universitas Lampung di Lampung dan Universitas Tanjung Pura di Banjarmasin. Selain itu juga dengan melihat letak daerah yang satu dengan yang lain dan juga keaktifan tiap institusi dalam kegiatan FKK-HIMAGRI diputuskan adanya perampingan wilayah dari 9 (sembilan) menjadi 7 (tujuh) wilayah. Dalam Pernas X yang dilaksanakan dimakassar ini dikukuhkan juga sebuah institusi baru yang berada di Pulau Buru Ambon yakni UMI BURU menjadi anggota baru dalam FKK-HIMAGRI. Dan dari pemilihan Sekjen yang diadakan terpilih Saudara Massuana dari UMI makassar untuk Periode 2003-2005, DPO oleh saudara Kepri dari HIMAGRO Univ. Bengkulu dan diputuskan Universitas Mulawarman Samarinda sebagai penyelenggara Pernas XI pada tahun 2005.

Pertemuan Nasional XI (Masa Bakti 2005-2007)

Pertemuan Nasional XI dilaksanakan di Kalimantan pada tanggal 2-9 Mei 2005 dengan Himagro Faperta Universitas Mulawarman sebagai tuan rumah, amanah dari PERNAS ke X di Malino, Makassar. Pembukaan Pernas XI pada tanggal 2 Mei 2005 dilaksanakan di Himagro Universitas Kutai Kertanegara Tenggarong. Pada Pernas ini Himagro Universitas Lambung Mangkurat dipercayakan sebagai Biro Pusat FKK HIMAGRI Masa Bakti 2005-2007, dengan Sekretaris Jenderal atas nama Ahmad Mujahidin dan DPO atas nama Syaiful Imam dari HIMAGRO Univ. Tadulako Palu. Dalam Pernas XI ini terjadi peristiwa yang tak pernah ada sepanjang perjalanan FKK-HIMAGRI, yang mana Biro Pusat (Sekjen) secara bersamaan dengan Koordinator DPO tidak hadir dalam Pernas untuk memberikan Laporan Pertanggungjawabannya dan dari 100 lebih institusi yang merupakan anggota tetap, hanya 8 institusi yang menghadiri kegiatan terbesar itu. Bias yang terjadi adalah seluruh keputusan lebih berorientasi pada pembahasan sanksi dan perubahan ADR/RT serta Perampingan Wilayah dari 7 (tujuh) menjadi 3 (tiga) wilayah. Pertemuan Nasional berikutnya (XII) ditetapkan di Makassar dengan Himagro Unhas sebagai penyelenggara Pernas XII. Lebih kurang 1 tahun kepengurusan Biro Pusat FKK HIMAGRI Masa Bakti 2005-2007, Sekjen meminta kepada DPO untuk diadakan Pernaslub atau mengundurkan diri. Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) akhirnya mengadakan Musyawarah Luar Biasa di Makassar dengan Universitas Hasanuddin sebagai tuan rumah, bertepatan dengan pelaksanaan Training Organisasi Profesi Mahasiswa Agronomi Nasional (TOPMANAS) FKK HIMAGRI. Penetapan Himagro Universitas Hasanuddin sebagai pelaksana PERNASLUB dengan pertimbangan bahwa kedudukan PERNAS dan PERNASLUB adalah sama. Akhirnya disepakati pemilihan Pejabat Sementara Sekjen (PJS) atas nama Ali Sastrawansah dari Himagro Universitas Hasanuddin untuk mengawal FKK HIMAGRI hingga diadakannya Pertemuan Nasional Luar Biasa.

Pertemuan Nasional Luar Biasa (Masa Bakti 2006-2008)

Setelah beberapa bulan Biro Pusat FKK HIMAGRI dipimpin oleh PJS, akhirnya dilaksanakanlah Pernaslub pada tanggal 9-11 September 2006 di Makassar oleh Himagro Unhas atas amanah dari Musyawarah Luar Biasa. Tuan rumah pelaksana Pernaslub, Himagro Universitas Hasanuddin untuk kedua kalinya dipercayakan sebagai Biro Pusat FKK HIMAGRI Masa Bakti 2006-2008 dengan Sekretaris Jenderal atas nama saudara Andi Amirullah. Dewan Pertimbangan Organisasi atas nama Moeh. Amien dari Himagro Universitas Tadulako sebagai koordinator, Ladzim Sofi dari Himadata Universitas 11 Maret, dan Suroyo dari Himagro Universitas Tirtayasa Banten. Di awal kepengurusan BP, pembagian 3 wilayah (keputusan pernas XI) masih dalam bentuk konseptual dan belum pernah terimplementasikan hingga terpilih KTW masing-masing. Akhirnya Biro Pusat mengambil alih pelaksanaan Pertemuan Wilayah (I, II dan III) hingga terpilihnya Koordinator-koordinator Tingkat Wilayah (KTW). Perwil I dilaksanakan oleh Himagro Universitas Padjajaran, terpilih KTW I dari Himagro Universitas Lampung atas nama Hudalkhakim. Perwil II dilaksanakan oleh Himagro Universitas Palangkaraya, terpilih KTW II dari Himagro Univeritas Gadjah Mada atas nama Dimas Ade Rahmawan. Pertemuan Wilayah III oleh Himadata Universitas Brawijaya, terpilih KTW II dari Himagro Universitas Halu Uleo atas nama Muh. Isnan.

Pertemuan Nasional XIII (Masa Bakti 2009-2011)
Regulasi kepemimpinan akhirnya harus maju hampir setahun. Pertemuan Nasional XIII ini dilaksanakan di Kampus Faperta Universitas Lambung mangkurat Banjarbaru KALSEL. tidak ada terjadi perubahan pada program kerja tawaran peserta bila dibandingkan dengan pernas lainnya. hanya saja pola pembagian wilayah dan struktur organisasi yang mengalami perubahan yang signifikan. KTW yang pada periode sebelumnya berjumlah 3 wilayah kini menjadi 5 wilayah yang terbagi dalam wil I (pulau Sumatera), wil II (Kalbar, Jabar, Banten, DKI Jakarta), WIL III (Jateng dan DI. Yogyakarta), WIL IV (Kalteng, Kaltim, Kalsel, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT) serta WIL V (Sulawesi, Maluku dan Papua). Selain itu, DPO tidak hanya ada pada tingkatan pusat saja, tetapi pada tingkatan wilayah juga memiliki DPO.

Thursday, November 19, 2009

Ekologi Adalah Ilmu Pengetahuan

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya (lihat Gambar 6. 1).

Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914).

Ekologi adalah cabang ilmu biologi yangbanyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas.

Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.

Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.

Ekologi Adalah Ilmu Pengetahuan

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya (lihat Gambar 6. 1).

Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (zoologiwan Jerman, 1834-1914).

Ekologi adalah cabang ilmu biologi yangbanyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas.

Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.

Dalam studi ekologi digunakan metoda pendekatan secara rnenyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.

Friday, November 13, 2009

proposal perwil IV FKK-HIMAGRI 2009/2011

bagi kawan-kawan yang ingin menghadiri pertemuan wilayah IV FKK-HIMAGRI (KALTENG,KALTIM, KALSEL, JATIM, BALI, NTT, dan NTB) silahkan download di link berikut:

Promote Your Blog

kehadiran kawan2 semua sangat berarti.

Pertanian Organik, Kembali ke Alam

Menurut Rancangan ke Indonesia Menteri Pertanian, Anton Apriyantono, pembangunan pertanian dihadapkan dengan beberapa kendala dan masalah yang harus dipecahkan, antara lain: 1) keterbatasan dan penurunan kapasitas sumberdaya pertanian, 2) sistem yang lemah alih teknologi dan kurang tepat sasaran, 3) terbatasnya akses layanan usaha terutama permodalan, 4) Perdagangan rantai panjang dan tidak adil sistem pemasaran, 5) rendahnya kualitas, mentalitas, dan petani keterampilan sumber daya, 6) lemahnya kelembagaan dan posisi tawar petani, 7) lemahnya koordinasi antar instansi terkait dan birokrasi, dan 8) sudah berpihaknya kebijakan ekonomi makro kepada petani.

Namun, walaupun kendala dan masalah di atas, sektor pertanian tetap menjadi fondasi bagi tidak hanya dalam mempertahankan ketahanan pangan, tetapi juga dalam penyediaan lapangan kerja, sumber pendapatan, penyumbang devisa dan pertumbuhan ekonomi nasional. Penghasilan dari pertanian dan lain bisnis berbasis pertanian diharapkan meningkat dari sekitar US $ 7.8 billion saat ini menjadi US $ 12 miliar pada 2009.

Pertanian organik, Itu adalah solusi tepat yang harus kita lakukan untuk memecahkan masalah ini. Paradigma pertanian harus diubah secara radikal. Kita harus kembali ke konsep pertanian alami. Terutama mengenai penggunaan pupuk dan pestisida, dan penyakit. Penggunaan pestisida, herbisida dan fungisida harus diminialisasi sampai ke tingkat mendekati nol. Penggunaan pupuk kita kembali lagi ke penggunaan pupuk kandang atau kompos dan pupuk hijau.

Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi yang holistik yang mendukung dan meningkatkan kesehatan ekosistem, termasuk siklus biologi dan aktivitas biologi tanah. Sedangkan IFOAM menjelaskan bahwa pertanian organik adalah pendekatan sistem secara keseluruhan yang didasarkan pada serangkaian proses yang menghasilkan ekosistem yang berkelanjutan (lestari), makanan yang aman, gizi yang baik, kesejahteraan hewan dan keadilan sosial.

Dengan demikian, pertanian organik lebih dari sekedar sistem produksi yang memasukkan atau mengeluarkan input tertentu, tetapi juga sebuah filosofi dengan tujuan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas masyarakat hidup berketergantungan setiap tanah, tanaman, hewan dan manusia.

Prinsip-prinsip Pertanian Organik
Sistem pertanian organik ini bergantung pada kesuburan tanah sebagai kunci keberhasilan produksi sehubungan dengan kemampuan alami dari tanah, tumbuhan, dan hewan untuk menghasilkan kualitas yang baik bagi hasil pertanian dan lingkungan.
Menurut IFOAM (Federasi Internasional Gerakan Pertanian Organik), tujuan yang akan dicapai dengan penggunaan sistem pertanian organik adalah: Untuk menghasilkan makanan dengan kualitas gizi tinggi dan dalam jumlah yang cukup, melaksanakan interaksi efektif dengan sistem dan siklus alam yang mendukung semua bentuk kehidupan yang ada, mendorong dan meningkatkan daur ulang dalam sistem usaha tani untuk mengaktifkan mikro-organisme hidup, flora dan fauna, tanah, tumbuhan dan hewan, melindungi dan meningkatkan kesuburan tanah secara berkelanjutan, menggunakan sebanyak mungkin sumber daya terbarukan yang berasal dari sistem pertanian sendiri, menggunakan bahan-bahan mudah didaur ulang di dalam dan di luar usaha pertanian, menciptakan kondisi yang memungkinkan hewan untuk hidup sesuai dengan perilaku intrinsik, membatasi terjadinya semua bentuk pencemaran lingkungan yang mungkin dihasilkan oleh kegiatan pertanian, mempertahankan keanekaragaman hayati, termasuk pelestarian habitat tumbuhan dan hewan, memberikan jaminan yang lebih baik bagi produsen pertanian (terutama petani) dengan kehidupan yang lebih sejalan dengan hak asasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menghasilkan pendapatan dan kepuasan kerja, termasuk lingkungan kerja yang aman dan sehat, dan mempertimbangkan dampak yang lebih luas peristiwa pertanian pada fisik dan kondisi sosial.
Pada prinsipnya, ramah dan pertanian organik selaras dengan lingkungan.

Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik untuk pupuk, zat pertumbuhan, dan pesticides.Although pertanian organik tidak hanya sempit sense.Organic pertanian bukan hanya sebuah teknik atau metode bertani, sebagai melaikan baik perspektif, sistem nilai, sikap dan keyakinan hidup.

Prinsip utama dalam sistem pertanian organik adalah lahan untuk budidaya bahan organik harus bebas kontaminasi agrokimia dari pupuk dan pestisida. Tanah dapat menjadi lahan pertanian baru dibuka atau lahan pertanian intensif yang telah dikonversikan ke pertanian organik. Periode panjang konversi bergantung pada sejarah penggunaan lahan, pupuk, pestisida, dan spesies tanaman.

Hal lain adalah menghindari benih / bibit rekayasa genetika atau rekayasa genetika Organism (GMO). Bibit harus berasal dari kebun pertanian organik. Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis dan zat pengatur pertumbuhan. Meningkatkan kesuburan tanah adalah melalui penambahan pupuk organik, sisa tanaman, pupuk alam, dan rotasi dengan tanaman kacang-kacangan.

Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetik. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan secara manual, biopestisida, agen hayati, dan rotasi tanaman. Menghindari penggunaan hormon pertumbuhan dan sintetik aditif dalam pakan ternak dan tidak langsung dalam pupuk. Materi penanganan pasca panen dan pengawetan makanan digunakan dalam cara-cara yang alami.

Melarang penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yang cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yang telah berkembang selama 35 tahun terakhir pertanian organik untuk menghasilkan dikurangi jika pengobatan yang tidak benar.

Budaya instan terbentuk ketika petani dengan mudah memperoleh dan menerapkan bahan-bahan kimia sintetik di lapangan sangat sulit untuk berubah. Kesulitan ini didapat ketika petani didorong untuk membuat kompos terlebih dahulu atau membuat ramuan racun hama yang dibuat dari tanaman obat.

Pupuk organik
Meningkatkan mutu intensifikasi selama tiga dekade terakhir, telah melahirkan petani yang memiliki ketergantungan pada produksi pupuk menyebabkan jenuh di bidang-bidang seperti beras intensifikasi. Situasi ini menyebabkan limbah selain juga menyebabkan banyak dampak negatif, terutama pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan ramah lingkungan.

Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberi dampak negatif, termasuk memperbaiki masalah hama dan penyakit akibat gizi tidak seimbang. Oleh karena itu, perbaikan yang diperlukan untuk mengatasi masalah ini, sehingga aturan penggunaan sumber daya secara efisien dan aman lingkungan dapat diterapkan.

Beberapa studi tentang efisiensi penggunaan pupuk mendukung upaya untuk menyelamatkan penggunaan pupuk kimia. Upaya dilakukan melalui pendekatan peningkatan daya dukung tanah dan / atau peningkatan efisiensi produk pupuk dengan menggunakan microorganisms.The penggunaan mikroorganisme dalam pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul dari penggunaan berlebihan pupuk kimia.

Manfaat penggunaan pupuk organik untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia secara signifikan dapat reduced.organic pupuk penyangga biologis yang memiliki fungsi dalam perbaikan fisik, kimia dan biologi tanah, sehingga tanah dapat memberikan nutrisi dalam jumlah yang seimbang.

Kemampuan pupuk organik untuk menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah dibuktikan oleh beberapa studi, baik untuk tanaman pangan (kedelai, beras, jagung, dan kentang) dan tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao, teh, dan tebu) yang dikenal selama ini sebagai pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia).
Lebih lanjut, kemampuannya untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan sesuai dengan kemampuan terbukti untuk menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia.

Tanah mempunyai peranan penting dalam penghapusan bahan organik. Cacing, serangga kecil, dan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur bertanggung jawab atas proses pembusukan, terdapat dalam tanah. Organisme ini dapat memperoleh energi dari bahan organik yang telah mati dan menguraikan bahan menjadi bahan baku yang dapat digunakan kembali oleh tanaman.

Organisme tanah mengganti tanaman yang mati menjadi nutrisi yang berharga.
Mikroorganisme membutuhkan oksigen, jadi jika kondisi tanah terlalu berlumpur, padat atau mereka tidak bisa hidup. Pada tanah yang terlalu padat atau berlumpur / banjir, maka jutaan mikroorganisme di dalam tanah akan mati.

Kematian mikroorganisme ini akan sangat mempengaruhi tingkat kesuburan tanah. Tidak ada lagi makhluk kecil yang menjalankan tugas 'memotong' bahan organik tanah menjadi senyawa yang tanaman membutuhkan. Pasokan makanan ke tanaman begitu buruk, dan tanaman tumbuh kerdil dan tidak produktif.

Pengendalian Hama & Penyakit
Petani telah terbiasa mengandalkan pestisida sintetik sebagai satu-satunya cara untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya hama dan penyakit tanaman. Seperti diketahui, terdapat kira-kira 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi menyebabkan penyakit dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida sintetik mengendaliakan di tanah mereka karena aplikasi KPT mudah, efektif dan tersedia secara luas di pasar harganya cukup mahal sekalipun.

Pada dasarnya, prinsip pengendalian hama dan penyakit dalam sistem pertanian organik lebih menekankan pada aspek integrasi keseimbangan alam. Ketika agroekosistem berhasil dikelola secara seimbang, maka biaya kontrol akan lebih murah. Keseimbangan alami antara serangga hama dan musuh alami sering dikacaukan oleh penggunaan insektisida yang hanya satu jenis.

Langkah-langkah pengendalian hama dikembangkan dalam pertanian organik pestisida menggunakan pestisida hayati dan botani, seperti menggunakan musuh alami, penggunaan varietas tahan, fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis. Banyak tanaman di sekitar kebun dan ladang-ladang yang dapat dimafaatkan untuk mengusir hama. Sebut saja seperti daun mimba, daun dan biji sirsak, kunyit, lengkuas, daun jeruk, serai, dan berbagai tanaman obat yang umumnya menghasilkan bau menyengat.

Selain itu, di lahan kebun atau ladang harus ditanam tanaman perangkap hama yang berfungsi untuk menarik hama menyerang tanaman perangkap, dan menjauh dari tanaman utama, sehingga kerusakan tanaman dapat dikurangi. Hama yang dapat mengumpulkan ikan yang ditangkap untuk makanan, sedangkan tanaman perangkap sendiri rusak oleh hama dapat dihilangkan dan dibakar.

Tanaman penolak hama dapat melindungi tanaman di dekatnya dengan bau penerbitan, bentuk dan warna daun atau bunga yang tidak diinginkan biasanya hama, sehingga hama akan menjauh dari tanaman utama.

**** ****
Sehubungan dengan banyaknya manfaat dan dampak positif yang dapat dirasakan dari penerapan sistem pertanian organik, Departemen Pertanian sejak tahun 2000 telah memberikan perhatian serius untuk pengembangan pertanian organik di Indonesia. Bahkan pada saat itu dicanangkan untuk mencapai Go Organik 2010.

Diharapkan program pertanian organik di Indonesia menjadi lebih kuat dan dapat menangkap lebih cepat daripada negara-negara lain yang sudah maju dalam sistem pertanian ini. Hope to Go Organik 2010 adalah diharapkan benar-benar terwujud dan Indonesia bisa menjadi produsen organik terkemuka, mungkin

Quo vadis industri pengolahan hasil pertanian

PENDAHULUAN: Salah satu rencana kerja Kabinet Indonesia Bersatu II adalah untuk mempercepat industri pengolahan melambat pada kuartal ketiga 2009. Mulai hari ini, Bisnis menyajikan sebuah isu selama ini menghambat pengembangan industri pengolahan di sektor pertanian. Makalah ini akan disajikan dalam dua artikel mulai hari ini.

Beberapa waktu lalu, Pusat Penelitian Teknologi Pertanian NTB melakukan penelitian di Desa Padamara, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini adalah untuk melihat peran industri pengolahan keripik singkong di ekonomi pedesaan bergerak.

Ada empat hal yang kesimpulan. Pertama, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku dan potensi sumber daya manusia yang tersedia, usaha pengolahan keripik singkong yang berharga. Kedua, dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi daerah, industri pengolahan keripik singkong telah memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat pedesaan baik dalam penyediaan bahan baku, proses produksi dan pemasaran. Ketiga, peningkatan pendapatan rumah tangga dari pengolahan keripik singkong Rp2, 06 juta per bulan. Keempat, industri pengolahan untuk meningkatkan pendapatan lembaga seperti pelaku pemasaran tukang ojek dan kios makanan.

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Pengatahuan (FMIPA UI) juga diadakan upacara peresmian industri pengolahan lidah buaya skala rumah tangga pada 05 Agustus 2008. Acara ini diselenggarakan di Jalan Pendowo Raya No.38 Desa Grogol, Kecamatan Limo, Depok.

Soal kesadaran terhadap pentingnya industri pengolahan hasil pertanian di Indonesia jauh lebih terbatas. Bahkan, setiap tahun, program kerja pemerintah tentang itu, tentang industri sering disebutkan.

Pada tahun 2005, misalnya, Program Revitalisasi Pertanian Pedesaan Melalui Industri Pertanian, Departemen Pertanian Pertanian mengakui Indonesia adalah negara di mana hampir 60% dari penduduk memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Potensi pertanian di daerah, seperti beras, ubi kayu, jagung dan kedelai dan umbi yang besar. Jadi adalah potensi untuk perkebunan dan hortikultura seperti kakao, karet dan teh, mangga, durian, nanas, terlalu besar. Potensi ternak juga tidak kurang besarnya. Potensi ini sejauh ini masih belum bekerja dengan baik, sehingga nilai tambah yang diperoleh adalah manfaat umumnya kecil dan kota.

Nilai tambah komoditas ini dapat ditingkatkan melalui industrialisasi di daerah pedesaan dengan memanfaatkan teknologi dan kekuatan sumber daya alam dan sumber daya manusia desa. Peningkatan nilai ini dapat dilaksanakan melalui pedesaan berbasis pertanian industrialisasi, dan sektor pertanian dapat dianggap sebagai sektor penyangga ekonomi dalam menggerakkan perekonomian.

Tingkat pemerintah setidaknya lima alasan utama mengapa agro-industri pedesaan penting bagi mesin pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan. Pertama, industri pengolahan yang mampu mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif (kompetitif), yang pada gilirannya akan memperkuat daya saing produk agribisnis Indonesia. Kedua, produk memiliki nilai tambah dan pangsa pasar besar sehingga kemajuan dapat mempengaruhi pertumbuhan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Ketiga, memiliki hubungan yang hebat baik untuk hulu dan hilir (keterkaitan ke depan dan ke belakang), sehingga untuk menarik kemajuan sektor-sektor lain. Keempat, basis bahan baku lokal (keunggulan komparatif) yang dapat diperbarui sehingga sustainabilitasnya dijamin. Kelima, memiliki kemampuan untuk mengubah struktur ekonomi nasional dari pertanian ke industri dan agro-industri sebagai motor penggerak.

Jangka panjang

Dengan keunggulan komparatif sumber daya alam di sana dan melihat peluang yang luar biasa lebar, sehingga dalam jangka panjang pengembangan agroindustri nasional mampu membawa Indonesia menjadi Negara Industri Pertanian Baru (NAC).

Di beberapa daerah, potensi industri pengolahan telah dibuktikan. Data Perdagangan, Industri, Koperasi, dan Penanaman Modal (P2KPM) Sleman pada tahun 2008 menunjukkan 14.720 industri kecil di Sleman, sebanyak 5.542 adalah usaha pengolahan hasil pertanian. Nilai produksi tahunan mencapai Rp210 miliar dengan mempekerjakan 14.132 orang. Jenis industri kecil banyak permintaan karena potensi pertanian Sleman banyak dan beragam.

Sebagian besar produk-produk pertanian diolah menjadi produk-produk makanan, seperti penjualan pisang, keripik singkong, sirup salak, dan abon ikan. Pengolahan produk pertanian yang bisa memberikan nilai lebih, setidaknya dua kali lipat, dibandingkan dengan hanya dijual sebagai bahan baku produk pertanian. Melihat besarnya potensi ini, Kabupaten Sleman menyediakan berbagai dukungan, baik dalam bentuk pelatihan dan modal. Tahun ini, 188 calon pengusaha industri kecil pengolahan hasil pertanian akan dipromosikan.

Namun, bangsa ini lalai. Kegiatan agroindustri masih terbelakang. Produk perkebunan sejak zaman Belanda masih berorientasi pada ekspor komoditas primer (mentah).

Pasangan-wakil presiden Mega-Prabowo juga berpikir begitu. Manajemen desain industri pertanian masih belum berubah sejak zaman kolonial, yang menempatkan Indonesia sebagai satu-satunya sumber pemasok bahan baku. Itu sebabnya pasangan Mega-Prabowo kampanye dalam program pada waktu itu, bertekad untuk mengakhiri keterbelakangan ini dengan mengarahkan industri pengolahan sumber daya alam terbarukan, terutama pertanian dan perikanan, untuk dapat menciptakan dan mengeksploitasi semua potensi nilai ekonomi yang dapat diperoleh dari industri ini.

Namun, apa yang telah dilakukan oleh pemerintah selama industri pengolahan pertanian prioritas Apakah gejala, tekad itu, hanya slogan.

Stop input Luar, mungkinkah????

Menanggapi tulisan Al kasambangi.....

Pada tahun 460-360 SM, Demoritus dari Abdera menyebutkan sebuah teori yang sekarang populer disebut sebagai pemikiran filsafat keatoman dari benda atau disebut juga sebagai ekosistem tertutup. Demoritus menyebutkan " Ibu pertiwi ketika dibuahi oleh hujan memberikan kehidupan bagi tanaman untuk makanan manusia maupun hewan. Namun, apa yang datang dari bumi harus dikembalikan ke bumi dan apa yang datang dari udara kembali ke udara. Kematian yang terjadi tidak akan menghancurkan unsur-unsur yang terbentuk, tetapi hanya memecahkan unsur2 tersebut menjadi bentuk lain dan kemudian setelah melakukan kombinasi bisa menghasilkan bentuk lain ".

Pikiran atomik siklik dan rantai tidak tergantikan melalui sistem hewan,tanaman, tanah ini ditenang oleh Aristoteles pada tahun 384-322 SM yang menyebutkan bahwa ada empat komponen tergantikan yang menjadi bahan pembentuk tanaman, yaitu tanah, air, api, dan udara. Menurut beliau, semua benda2 di dunia ini dibuat dari keempat elemen ini. Tanaman menggabungkan partikel2 dari elemen2 ini melalui akarnya yang kemudian menghasilkan bentuk awal dari tanaman.

Pemikiran bahwa makanan tanaman bisa digantikan oleh unsur2 lain dari luar ekosistemnya berkembang pesat ketika Leibig (salah satu tokoh di mata kuliah ekum) mempublikasikan teoi tentang bahan pembentuk tanaman yang kemudian berkembang menjadi teori pemupukan inorganic (sintetik). Teori beliau, menjadi fondasi dari teori nutrisi mineral tanaman yang menjadi pioner dari mentalitas penggunaan pupuk N-P-K (sering dipakai mahasiswa agro untuk penelitian) untuk kesuburan tanaman.

Leibig pada tahun 1840 mempublikasikan bukunya yang berjudul Organic Chemistry in its Application to Agriculture and Physiology. Doktrin dasar buku ini sejalan dengan prinsip "tergantikan" yang diajukan Aristoteles dan menyebutkannya bahwa pupuk inorganik dapat menggantikan kotoran ternak maupun humus untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan produksi tanaman. Teori ini juga kemudian memperkuat kedudukan ahli kimia di dalam upaya meningkatkan produksi tanaman. Pada tahun 1843, dibangun pusat percobaan Rothamsted yang membuktikan bahwa tanaman dapat berproduksi dalam waktu yang lama walaupun hanya menggunakan pupuk inorganik. Teori ini kemudian mendorong perubahan paradigma di dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman secara radikal dari konsep awal yang melihat bahwa pemenuhan makanan tanaman harus dikelola di dalam sebuah kebun, baik dengan proses daur bahan2 sisa yang ada di kebun maupun melalui rotasi tanaman (menjaga kesubuan tanah). Teori ini melahirkan sebuah konsep baru yang menyatakan bahwa kebutuhan makanan tanaman dapat langsung disediakan dan diberikan kepada tanaman.

Prinsip "tergantikan" ini kemudian meluas untuk menggantikan komponen2 lain dari ekosistem pertanian. Ekosistem pertanian yang meliputi tanaman dan seluruh komponen yang berhubungan dengannya (biotik dan abiotik), dalam paradigma ini digantikan oleh bahan2 buatan. Tentu saja, seluruh pergantian ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman yang diinginkan.

Pada dasarnya, produktivitas tanaman tergantung kepada faktor internal tanaman itu sendiri (sifat2 yang ada pada tanaman) dan faktor eksternal yaitu lingkungn tempat tanaman hidup.Faktor internal tanaman beradaptasi dengan faktor eksternal untuk menghasilkan produk. Jika faktor lingkungan mendukung maka tanaman akan dapat berproduksi dengan secara optimal sesuai dengan sifat2nya. Sebaliknya, jika ada faktor penghambat maka tidak akan bisa berproduksi secara optimal. Performa tanaman di alam untuk berproduksi secara perlahan dari waktu ke waktu terperbaiki karena adanya proses adaptasi dan interaksi dari tanaman dengan alam.

Berkembangnya paradigma pertanian dari prinsip mengembalikan ke alam apa yang didapat dari alam ke paradigma baru yang mau menggantikan bahan kebutuhan tanaman dengan bahan2 buatan mendorong berkembangnya industrialisasi bahan2 kimia sintetik yang berhubungan dengan tanaman. Tekonologi kemudian dibangun untuk meningkatkan dan mempercepat proses produksi pertanian sehingga kebutuhan atau tepatnya keserakahan manusia akan produksi tanaman bisa terpenuhi.

Apa yang menjadi janji teknologi untuk meningkatkan produktivitas pangan sehingga kelaparan tidak terjadi dan meningkatkan kesejahteraan petani ternyata tidak terbukti. Hal yang terjadi justru sebaliknya, penggunaan bahan2 kimia sintesis di dunia pertanian ternyata menimbulkan persoalan2 baru sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran air,udara, dan tanah. Kerusakan tanah serta peningkatan serangan hama yang pada akhirnya mengancam keberlanjutan kehidupan manusia di muka bumi. Teknologi yang dikuasai oleh segelentir orang (kapitalis red) melahirkan generasi petani yang tereksploitasi karena tidak lagi memiliki sumber daya lokal alami untuk menjalankan kegiatan pertaniannya. Ini semua membahayakan keberlanjutan kehidupan sehingga perlunya mendorong bangkitnya gerakan perlawanan dengan mengajukan cara bertani alternatif yang bersahabat dengan alam dan menjamin keberlanjutan kehidupan di muka bumi ini.

Allahu A'lam....

revolusi sebatang jerami 1

oleh Habibi Husain (agronomi unhas '04)

REVOLUSI SEBATANG JERAMI
“ Alam Terbuka penuh rahasia “


Setelah membaca sebuah karya tulis yang dibuat oleh seorang Jepang yaitu Masanobu Fukuoka. Ada dua hal yang saya bayangkan dimana kedua hal tersebut mungkin saling bertolak belakang. Hal yang pertama yaitu bahwa Masanobu Fukuoka adalah salah diantara sedikit orang di dunia ini yang masih memikirkan tentang bagaimana paradigma pertanian saat ini telah menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan. Hal kedua yang saya pikirkan dan membuat saya sedikit merasa sedih yaitu “ Apakah masih ada orang Indonesia yang mencintai dunia pertanian dan peduli tentang kelestarian lingkungan dan mau membagi pengetahuan yang dimilikinya kepada anak-anak muda Indonesia seperti saya lewat sebuah buku sehingga saya tidak mesti membaca buku yang ditulis Masanobu Fukuoka, Walaupun saya menyadari buku yang ditulis oleh Masanobu Fukuoka merupakan buku yang sangat menarik dibaca dan kemudian dijadikan bahan refleksi terhadap apa yang telah kita lakukan terhadap alam.
Terlepas dari dua hal tersebut yang sempat memberikan kegelisan-kegelisan. Ada sebuah Hal yang menarik yang dapat jadikan sebagai bahan refleksi dan selanjutnya dapat kita jadikan sebagai modal di dalam melakukan sebuah gerak menuju perubahan sehingga perubahan tersebut akan mendekatkan kita menuju Kesempurnaan-Nya. Hal tersebut yaitu terkadang kita melupakan bahwa alam telah menyiapkan banyak hal untuk dapat kita gunakan untuk dapat terus hidup namun kita kemudian melupakan hal tersebut karena paradigma yang terbangun di dalam pemikiran kita bahwa alam haruslah dikuasai sehingga alam menjadi rusak padahal pada hakekatnya alam merupakan sebuah titipan yang diberikan Tuhan kepada umat manusia sebagai Khalifa-Nya dimana efek yang yang ditimbulkan dari hasrat untuk menguasai alam malah mengakibatkan terjadi kerusakan terhadap lingkungan sehingga umat manusi senidirilah yang harus merasakan akibat dari kerusakan lingkungan yang terjadi akibat keserakahannya sendiri. Bidang pertanian yang merupakan sebuah bidang yang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan dengan alam, ternyata juga menimbulkan efek kerusakan pada alam yang disebabkankan karena didalam menjalankan kegiatan pertanian tidak dilandaskan pada sebuah konsep bahwa alam adalah titipan Tuhan yang mesti dijaga namun yang terjadi malah sebaliknya alam kemudian diekplotasi secara besar-besaran di bidang pertanian dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan pangan umat manusia yang semakin meningkat padahal kebutuhan manusia telah tercukupi padahal hanya keinginan manusia yang dikusai oleh nafsu hingga menyebabkan lingkungang menjadi rusak.
Masanobu Fukuoka yang melihat bahwa kerusakan alam yang dilakukan oleh petani tidak telepas dari konsep pembangunan pertanian yang dicanangkan oleh pemerintah. Hal ini diakibatkan karena kebijakan pemerintah sendiri yang masuk dalam putaran setan kapitalisme dimana jika dianologikan ibarat uang logam yang bersisi dua dimana pemerintah terkadang memberikan penyuluhan terhadap para petani tentang pentingnya bertani tanpa merusak ekosistem yang ada, namun disisi pemerintah pun terkadang memberikan pupuk kimia ataupu penggunaan pestisida kepada petani didalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan bernilai ekonomi tinggi dan terkadang melupakan alam. Tentu kedua hal tersebut menjadi sangat riskan jika renungi bersama-sama. Petani pun terkadang mempunyai pola pikir yang sangat konservatif jika diperhadapkan pada sebuah perubahan tentang cara bertani. Hal ini pun dirasakan oleh Masanobu Fukuoka yang mencoba memperkenalkan tentang cara bertani dengan memanfaatkan alam yaitu jerami yang ternyata sangat efektif didalam meningkatkan produksi pertanian kepada petani namun kurang mendapatkan respon yang positif. Tetapi Masanobu Fukuoka beranggapan bahwa suatu saat metode yang dia gunakan dengan menggunakan jerami suatu saat akan diterima oleh para petani.
Dari apa yang yang telah dilakukan oleh Masanobu Fukuoka kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang menjadi masalah dari kerusakan lingkungan yang terjadi akibat tehnik bertani yang kurang tepat yaitu terlalu banyaknya keinginan manusia yang tidak terpenuhi dan juga bahwa bertani dengan menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam lebih baik jika dibandingkan dengan penggunaan bahan-bahan kimia. Dan juga alam mempunyai kearifan tersendiri yang dapat kita refleksikan bersama dan juga kearifan local yang sebelumnya telah diterapakan oleh para petani kita tidak lupakan seperti tradisi Tudang Sipulung tetap kita pertahankan karena saya berkeyakinan bahwa kita sebagai generase muda saat ini akan tetap mempertahankan semangat Lagaligo / Sewerigading dengan cita-cita setinggi gunung Bawakaraeng sebagaimana Masanobu Fukuoka dengan semangat kearifan lokanya yaitu Samurai/ ataupun bushido-nya dengan cita-cita setinggi gunung Fuji.

Kearifan Lokal: Counter hegemoni Cartesian

MUH SZAIHU AL KASAMBANGI (agronomi unhas '03)


Sangat sulit untuk mengubah paradigma pembangunan pertanian saat ini sepanjang cara pandang kita terhadap alam sekitar tidak kita ubah..mengubah prilaku meniscayakan mengubah cara pikir.

Bermula dari konsep cartesian yang menganggap alam sebagai benda mati biasa yang bebas untuk dieksploitasi, Subjek mengeksploitasi Objek, manusia lebih superior dari alam, implikasi dari cogitu ergo sum..

cara pandang ini kemudian diekspor kemana-mana sehingga menjadi cara pandang dominan di muka bumi ini, lihat saja cara pandang ini sangat kental mewarnai dalam konsep pembangunan pertanian kita dan parahnya dilegitimasi lewat institusi pendidikan, tempat kita kuliah, Fakultas Pertanian, Agronomi.

Petani tidak juga bisa disalahkan atas permasalahan ini, mereka hanyalah korban. Toh sebenarnya petani juga mempunyai konsep yang genuin seperti apa cara pandang mereka terhadap alam (kearifan lokal) seperti masyarakat kajang atau masyarakat baduy, lalu siapa yang latah..

menarik untuk diperhatikan konsep mulla sadra ataupun withehead tentang kesatuan organis alam dan manusia, manusia tidaklah terpisah dari alam, manusia adalah bagian dari alam dan alam adalah bagian dari manusia, mengubah alam berarti mengubah manusia, merusak alam niscaya efeknya akan kembali pada manusia. Filsafat mullah sadra maupun withehead ini sedikit banyak telah dipraktikkan nenek moyang kita sejak dahulu kala, mereka telah melampui pemikiran modern (yang telah sadar) sebelum waktunya.

REVOLUSI SEBATANG JERAMI

oleh : Seniarfan (agronomi unhas '04)
Revolusi sebatang jerami merupakan sebuah karya besar akan semangat besar seorang petani dalam melakukan sebuah perubahan.Walaupun sebenarnya buku ini merupakan cerita masa lalu yang terjadi dijepang. Buku ini memberikan recovery bagi para pembaca akan situasi pembangunan pertanian ditengah arus globalisasi saat ini sebagai sebuah refleksi kritis akan masa lalu dan hari ini. Berangkat dari sebatang jerami harapan besar tersebut muncul sebagai keprihatinan para petani terhadap kondisi pertanian yang digilas oleh zaman.
Jerami merupakan sisa panen dari tanaman padi yang punya banyak manfaat. Selain bisa menjadi bahan organic setelah mengalami dekomposisi oleh mikroorganisme dalam tanah untuk kemudian diolah menjadi pupuk organic juga beguna sebagai pakan ternak dan bahan industry pabrik. Penulis pun sepakat jika sebatang jerami tersebut dianggap sebagai sebuah revolusi kemanusiaan yang dapat terjadi dan menggerakkan negara dan dunia. Dalam hal ini, kita bisa lihat realita yang ada, dimana peledekan penduduk yang semakin meningkat membutuhkan ketersediaan pangan yang cukup. Belum lagi, paradigma pembangunan modern yang ada sekarang menekankan pada efisiensi dan efektifitas akan pemenuhan kebutuhan pangan tersebut. Sehingga pertumbuhan produksi akan ketersediaan pangan adalah prioritas utama yang tidak lagi memperhatikan sisi keberlanjutannya. Selama beberapa waktu tujuan tersebut memang tercapai dengan gemilang, ini bisa lihat tahun 1960-an yang biasa disebut dengan Revolusi Hijau. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah berbagai masalah yang kemudian menyusulnya, seperti ketergantungan petani pada input dari luar yang tinggi (Bibit, pupuk kimia), resistensi hama dan penyakit, dan berkembangnya beberapa permasalahan sosial dipedesaan (kesenjangan ekonomi, perubahan fungsi institusi tradisional, dsb).
Pemanfaatan jerami memberikan kita pembelajaran yang berharga akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Seperti yang dikatakan Mahatma Gandi bahwa “ Alam akan mampu memenuhi kebutuhan bagi manusia tapi tidak untuk yang serakah “. Penulis mengira hal tersebut sangat penting untuk diteriakkan kepada para penguasa yang hanya cenderung melakukan eksploitasi terhadap alam untuk meningkatkan produksi tanpa mengabaikan sisi ekologisnya. Belum lagi, kebijakan dari pemerintah terhadap sector pertanian yang malah tambah menyusahkan rakyat. Seharusnya perubahan dalam dunia pertanian berangkat dari akumulasi pemikiran para petani sebagai pelaku utama yang sesuai dengan kondisi sosial budaya yang ada.
Pembangunan suatu negara harusnya mencerminkan kesejahteraan mayoritas penduduk Negara itu, apalagi ketika mayoritas tersebut seperti di negara-negara berkembang adalah petani. Jadi negara berkembang harus mengutamakan pembangunan pertanian seperti di negara kita ini Indonesia. Namun dalam hal ini produktivitas bukanlah hal yang satu-satunya focus seperti yang terjadi dimasa lalu. Hal terpenting yang harus di lakukan adalah memperkuat basis pertanian domestic dengan spirit lokalitas yang antara lain menurut Loekman dalam bukunya “ Globalisasi Pertanian “ adalah dengan cara melindungi hak petani atas air dan bibit, menjadikan pengetahuan local masyarakat petani sebagai sentral pembangunan pertanian. Selain itu yang juga menarik adalah disarankannya pola pertanian organic sebagai alternative dari pola pertanian konvensional yang selama ini dilakukan.
Maka dari itu, sesuai motto petani tua : “ perlakukanlah seikat jerami itu sebagai yang penting dan jangan mengambil satu langkah pun yang tidak berguna “ mengingatkan kita semua akan sebuah usaha untuk membangun pertanian masa depan yang mungkin dari kita sebagai mahasiswa bisa dimulai dari ruang-ruang kuliah. Satu tekad, satu jiwa, jayalah Pertanian !!!

Yuzamri's Blog: istilah pertanian

Yuzamri's Blog: istilah pertanian

KOMUNITAS ALUMNI KEBUN POLINELA: Assisten Agronomi ( kode : AA )

KOMUNITAS ALUMNI KEBUN POLINELA: Assisten Agronomi ( kode : AA )

Thursday, November 12, 2009

Perkebunan Picu Konversi Lahan Pertanian Besar-besaran

Maraknya pembukaan perkebunan yang berlangsung secara besar-besaran sebagai salah satu penyebab berkurangnya lahan produktif pertanian. Bahkan dua pulau di Indonesia, Kalimantan dan Sumatera, menjadi penyumbang alih fungsi lahan terbesar di Tanah Air.
“Untuk kawasan Sumatera sendiri, seperti yang disampaikan, eksploitasi areal sawit telah mengganti tanah-tanah subur pertanian,” kata Sekretaris Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Pusat Prof Sudirman Yahya pada acara Simposium dan Seminar Nasional Peragi di Gelanggang Mahasiswa USU, Selasa (27/10).
Tiap tahun, kata Sudirman, luas lahan sawah di Indonesia berkurang hingga mencapai 10.000 hektar yang tidak hanya dijadikan perkebunan tetapi ke fungsi lain. Selain itu, konversi lahan sawah ke penggunaan non- pertanian seperti kompleks perumahan, kawasan industri, kawasan dagang, dan sarana publik menimbulkan dampak bagi ketahanan pangan.
“Konversi lahan merupakan ancaman serius, mengingat konversi lahan tersebut sulit dihindari sementara dampak yang ditimbulkan terhadap masalah pangan bersifat permanen, kumulatif, dan progresif,” ucap Sudirman.
Sudirman dalam seminar bertema Peranan Ahli Agronomi dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Energi Nasional lebih jauh mengatakan, bila operasi pembukaan lahan secara kontinu terjadi, hasilnya akan sedikit lahan untuk dipakai bercocok tanam.
Konversi ini, kata Sudirman, secara tak langsung membuat identitas masyarakat Indonesia yang agraris akan hilang akibat industrialisasi perkebunan. “Kenyataannya, butuh proteksi kebijakan untuk memastikan kelangsungan areal tani kita tidak berkurang dan tidak berubah dengan tanaman lain,” tandas Sudirman yang dari IPB ini.
Sudirman mengharapkan, dengan disahkannya Undang-undang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan menjadi sinyal positif dalam mendukung swasembada pangan. Karena menjadi pekerja di lahannya sendiri. Tetapi lanjut dia, pemerintah harus mempersiapkan instrumen lanjutan seperti peraturan pemerintah dan lainnya untuk mendukung jalannya Undang-undang itu.
Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumut beberapa waktu lalu merilis akibat terjadinya penyalahgunaan ruang pertanian sawah menjadi lahan non pertanian, di Sumut saja per keluarga hanya bisa menikmati 1,19 hektar.
Di samping itu kata Ketua SPI Sumut Wagimin, agenda liberalisasi di bidang pangan dan pertanian semakin menggila semenjak keluarnya Inpres No 5 tahun 2008 tentang fokus program ekonomi 2008-2009. Di Inpres itu secara terbuka diatur sejumlah konsesi untuk perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di bidang pangan dengan skala yang luas (food estate).
“SPI sendiri meminta supaya pemerintahan kedepan fokus pada komitmen program redistribusi sumber agraria terutama tanah, air dan benih untuk petani tak bertanah, petani kecil, komunitas adat lokal dan kaum perempuan disertai dengan kepastian haknya,” kata Wagimin.

sumber :medanbisnisonline.com

Alumni UIR Ikuti Program Double Degree di Thailand; Temukan Pembungaan Awal pada Kelapa Sawit

Laporan Abu Kasim, Siak abukasim@riaupos.com
Salah seorang alumni Universitas Islam Riau (UIR) Khairunnizam MP MSc menjadi delegasi mahasiswa Provinsi Riau yang saat ini telah berhasil menyandang gelar keserjanaan ganda (double degree) tahun ajaran 2009.

MELALUI karya ilmiah di bidang Bioteknologi Agroindustri tanaman sawit, yang saat ini telah diterima di Jurnal Internasional, Thailand. Khairunnizam yang saat ini berada di Prince of Songkla University, Thailand melalui surat elektroniknya kepada Riau Pos, Ahad (8/11) mengatakan, derap kemajuan pendidikan nasional perlahan berubah ke arah perbaikan yang positif, dengan menyelaraskan kurikulum terapan berskala internasional dan berorientasi kualitas.

Menurutnya, melalui program double degree binaan Depdiknas RI, program binaan beasiswa unggulan yang ditawarkan adalah bioteknologi agroindustri melalui skema kemitraan antara Universitas Brawijaya dengan Prince of Songkla University, Thailand.

Menurut putra kelahiran Bengkalis, dari 47 delegasi mahasiswa Indonesia yang sebelumnya direkrut melalui proses rekrutmen mahasiswa yang ketat, dari hampir seluruh universitas terkenal di Indonesia, kemudian bagi yang lolos seleksi diberikan kesempatan kuliah di Thailand yang tersebar di lima universitas besar di Thailand. Dari sekian wakil mahasiswa Indonesia hanya satu orang alumni UIR, yakni dirinya yang menciptakan karya ilmiah di bidang Bioteknologi Agroindustri tanaman sawit yang saat ini telah diterima di Jurnal Internasional.

Khairunnizam telah mampu membuktikan kemampuannya dan berhasil mengukir prestasi belajar di Thailand pada jenjang Strata 2 (S2) dengan hasil yang sangat memuaskan. Selain sukses menyumbangkan prestasi mahasiswa alumni UIR ini juga melalui sentuhan kreatif anak negeri berhasil menciptakan temuan baru yaitu pembungaan awal kelapa sawit pada kondisi dalam botol in vitro diharapkan nantinya umur produksi panen kelapa sawit selain singkat sekaligus menghasilkan bobot buah yang berkualitas.

“Ini sebuah sumbangan kreasi sebagai kembangaan Provinsi Riau dan Indonesia umumnya, karena dapat sejajar dengan mahasiswa India, Cina, Bangladesh, Iran, Nepal, United Kingdom (UK) dan Thailand sendiri yang kita anggap lebih maju pertaniannya,” papar putra ketiga dari empat bersaudara pasangan Makruf dan Atimah.

Saat ini ia yang disibukkan aktifitasnya pada pengembangan riset, dan melanjutkan di program PhD di Prince of Songkla University juga ditunjuk oleh pihak universitas menjadi wakil presiden BEM untuk urusan mahasiswa internasional. Ketika dikonfirmasikan langsung kepada yang bersangkutan sebelum berita ini dimuat di Riau Pos, juga sudah dimuat di Good News, telah dikonfirmasikan terlebih dahulu oleh Gubernur Riau H Rusli Zainal SE MP.

Menurut Izam panggilan akrab Khairunnizam, sambutan Gubernur Riau menyambut baik program ini, karena ukuran orientasinya adalah menciptakan karya kreasi anak negeri yang kompetitif dan berkualitas, terlebih lagi ini adalah program nasional binaan mahasiswa unggulan Depdiknas pusat yang output-nya bermanfaat untuk mengisi dan memberikan kontribusi dalam pembangunan pendidikan di daerah Riau.

“Gubernur Riau juga menyampaikan sumbangan prestasi ini diharapkan akan menjadi trigger motivasi bagi mahasiswa Riau untuk dapat menciptakan lebih banyak lagi kreasi dari anak negeri ini, baik di skala nasional maupun international. Salah satu slogan yang ia yakininya adalah rooting local thinking global,” ujarnya.(ila)

HET Pupuk Segera Ditetapkan

JAKARTA (SI) – Harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi 2010 akan ditetapkan awal pekan depan. Departemen Pertanian (Deptan) telah menghitung besaran kenaikan HET tersebut, tetapi harus dibicarakan terlebih dahulu dengan DPR.

“Senin (16/11) mendatang kami akan melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR. Dalam rapat tersebut, salah satunya membicarakan rencana kenaikan HET tersebut,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Suswono di Jakarta kemarin. Menurutnya, pihaknya tidak bisa terburu-buru menetapkan HET pupuk karena harus dibarengi dengan kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras milik petani.

Upaya ini dilakukan agar petani tetap mendapatkan keuntungan yang wajar walaupun HET pupuk naik. Pemerintah terpaksa menaikkan HET pupuk bersubsidi untuk 2010 karena dipangkasnya alokasi subsidi pupuk dari Rp17.537 triliun di 2009 menjadi Rp11,291 triliun untuk 2010.“Kalau HET naik, HPP juga harus naik.Ini dilakukan agar petani tetap mendapatkan untung yang wajar,”katanya.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengatakan, HET pupuk tidak pernah naik sejak empat tahun terakhir,padahal harga gas yang menjadi bahan baku pupuk sudah naik beberapa kali. Anggota Komisi IV DPR Rofi’ Munawar meminta kenaikan harga pupuk diputuskan secara yang bijak. Ini sekaligus untuk memberikan kepastian waktu kenaikan untuk mencegah spekulasi harga pupuk di pasaran.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Global Justice Indah Suksmaningsih mengatakan, kebijakan penurunan harga pupuk merupakan atas desakan pasar global. “Pemerintah mengikuti anjuran kesepakatan dalam World Trade Organization (WTO) agar subsidi dikurangi,”kata dia.

sumber SINDO 12 November 2009(sudarsono/ meutia rahmi/ sandra karina)

BUDI DAYA; Dephut gelar seminar gaharu

JAKARTA: Departemen kehutanan dan Institut Pertanian Bogor menyelenggarakan seminar nasional gaharu pada 12 November dalam rangka memberikan arahan membangun pencapaian pengelolaan hutan gaharu.

Kepala Pusat Departemen Kehutanan Sekretariat Jenderal Pusat Informasi Kehutanan Masyhud menyatakan gaharu adalah salah satu hasil hutan nonkayu yang memiliki warna dan kandungan damar wangi yang khas.

"Gaharu memiliki nilai jual tinggi dan dapat dimanfaatkan a.l. sebagai bahan dasar industri parfum, dupa, dan obat-obatan," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis kemarin.

Dia mengatakan gaharu merupakan pohon langka dan dibatasi ekspornya. (Bisnis/dle)

Monday, November 9, 2009

ekologi umum

klik untuk lihat dan download
Promote Your Blog

Sunday, November 8, 2009

Saturday, November 7, 2009

FKK-HIMAGRI (Forum komunikasi dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia)

PROFIL FKK HIMAGRI

LATAR BELAKANG

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, sesungguhnya ilmu pengetahuan merupakan sumber kebenaran yang dapat membawa manusia kearah kesempurnaan dan kebahagiaan. Mahasiswa adalah insan akademis, anak bangsa dan bagian dari masyarakat ilmiah yang bertanggungjawab terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta integritas dan kemajuan bangsanya dimasa yang akan datang. Hal ini menuntut mahasiswa untuk terus bergerak, berkreasi dan berinovasi. Selain itu, juga dituntut untuk peka terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsanya khususnya disiplin ilmu yang ditekuni sebagai manifestasi calon intelektual muda yang profetik. Tanggungjawab tersebut tidak dibebankan pada seseorang, sekelompok atau golongan tapi melainkan adalah tanggungjawab bersama dengan mengesampingkan primordialitas dan mengedepankan altruisme, egelitarian, dan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Olehnya, persatuan dan kerjasama adalah titik temu dari semua itu. Bertitik tolak dari pemikiran tersebut diatas, maka kami mahasiswa agronomi Indonesia sepakat untuk membentuk Forum Komunikasi dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (FKK HIMAGRI).

NAMA ORGANISASI

  • Forum Komunikasi dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia, disingkat FKK HIMAGRI.

WAKTU, TEMPAT DAN KEDUDUKAN

  • Organisasi ini didirikan pada tanggal 25 November 1984 di Kampus Baranangsiang Bogor untuk waktu yang tidak ditentukan.
  • Forum ini berkedudukan di Biro Pusat FKK HIMAGRI yaitu Himpunan Mahasiswa Agronomi (HIMAGRO) Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin.

LANDASAN DAN ASAS

  • FKK HIMAGRI berlandaskan nilai-nilai Tridharma Perguruan Tinggi
  • Forum ini berasaskan nilai-nilai luhur Pancasila

TUJUAN

  • Terbinanya profesionalisme dalam bidang-bidang keilmuan dan keorganisasian.
  • Terwujudnya komunikasi dan kerjasama antara Himpunan Mahasiswa Agronomi/Budidaya Pertanian dan lembaga lain dalam rangka mengembangkan pengadian ilmu bagi kepentingan diri, lembaga dan mayarakat bangsa Indonesia.

BENTUK, SIFAT, DAN STATUS

  • Organisasi ini berbentuk Forum komunikasi dan kerjasama.
  • Organisasi bersifat semi independen.
  • FKK HIMAGRI adalah satu-satunya wadah aspirasi dan kreasi mahasiswa agronomi/budidaya pertanian atau sejenis tingkat nasional yang ditetapkan berdasarkan SK DIKTI NO.25/DIKTI/KEP/1990.
USAHA
  • Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kerjasama mahasiswa agronomi/budidaya pertanian dan lembaga kemahasiswaan lainnya yang sejenis.
  • Menggerakkan dan mengembangkan penalaran mahasiswa agronomi/budidaya pertanian dan lembaga kemahasiswaan lainnya yang sejenis dalam melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi berasaskan Pancasila.
  • Mengadakan tukar-menukar informasi tentang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi antara mahasiswa agronomi dan lembaga pada umumnya.

VISI

”FKK HIMAGRI sebagai wahana pendidikan dan media juang mahasiswa agronomi; upaya mendorong kemandirian lokal petani dan pembangunan pertanian berkelanjutan menuju agenda penguatan kebangsaan”

MISI

  • Kaderisasi baku, sistematis dan terkelola baik melalui perencanaan pengkaderan yang matang dan kontestasi kurikulum yang berorientasi sosial.
  • Pembangunan jaringan kemitraan (networking) dengan stakeholder terkait yang relevan, efektif dan efisien untuk optimalisasi sumberdaya organisasi guna pencapaian tujuan.
  • Menstimulasi keterlibatan dan partisipasi petani dalam setiap tahapan pembangunan pertanian melalui kegiatan investasi sumberdaya manusia (human investment).
  • Mendorong model pembangunan pertanian berkelanjutan berbasis lokal dengan upaya proteksi sumberdaya alam dan eliminasi hambatan terhadap optimalisasi keunggulan lokal sebagai upaya transformasi pertanian subsisten ke pertanian komersil yang menjaga daya dukung alam (natural capability) dan daya dukung sosial (social capability).
  • Mendorong demokratisasi dengan menjalankan fungsi kontrol (ceck and balance) dan oposan konstruktif (sparing partner kritis) terhadap semua element yang terkait khususnya pemerintah dalam konteks pembangunan pertanian.

STRATEGI DASAR
  • Menjalankan kaderisasi secara sistematis dan berkesinambungan.
  • Mendorong kegiatan berbasis penelitian khususnya konservasi plasma nutfah tanaman potensial pertanian berbasis komoditi lokal wilayah masing-masing anggota baik tanaman pangan, hortikultura, obat-obatan, perkebunan dan sebagainya.
  • Mendorong kegiatan pengabdian pada masyarakat melalui perintisan, pembentukan, dan pelembagaan desa-desa dampingan serta berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya sebagai upaya sosialisasi lembaga dan almamater di masyarakat luas.
  • Senantiasa menjadi oposan konstruktif (sparing partner kritis) bagi pemerintah dan melakukan advokasi terhadap masyarakat tani yang termarjinalkan.
  • Pengurus Biro Pusat melakukan koordinasi dan konsolidasi yang intens terhadap seluruh masalah-masalah nasional dan merumuskan langkah selanjutnya.
  • Pengurus Wilayah melakukan koordinasi dan konsolidasi yang intens terhadap masalah-masalah wilayah.
  • Membangun kemitraan (networking) dengan elemen terkait dalam rangka membuka akses seluas-luasnya terhadap sumberdaya alternatif bagi organisasi.

MANAJEMEN ORGANISASI

  • Keuangan
    • Sistem akuntansi
    • Transparan dan memiliki mekanisme pelaporan
  • Administrasi
    • Sistem pengarsipan
    • Sistem persuratan yang baku
  • Sumberdaya Manusia
    • Sistem pembagian kerja yang jelas dengan tanggungjawab dan akuntabilitasnya.
    • Perencanaan SDM yang sesuai dengan strategi dan struktur organisasi.
    • Kebijakan organisasi mengarahkan pada perilaku komitmen bagi seluruh anggota.
    • Mempunyai sistem hubungan kerja yang partisipasif.
  • Program
    • Sistem monitoring dan evaluasi
    • Sistem reporting
    • Sistem dokumentasi
    • Terencana terukur dan sustainable
  • Governance
    • Leadership yang akuntabel
    • Sistem regulasi kepemimpinan dan kepengurusan
    • Pola hubungan stakeholder yang efektif dan komunikatif
    • Struktur menggambarkan wewenang dan tanggungjawab agen organisasi
  • Informasi
    • Sistem pengumpulan, analisa, dan pelaporan informasi
    • Membangun Jaringan Kerja (networking) untuk menguatkan basis informasi
    • Memanfaatkan teknologi sebagai instrumen pengelolaan informasi dan data base.

STRUKTUR ORGANISASI

  • Biro Pusat
    • Kedudukan Biro Pusat FKK HIMAGRI Periode 2006-2008 berkedudukan di Himpunan Mahasiswa Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar.
  • Koordinator Tingkat Wilayah
    • Kedudukan Koordinator Tingkat Wilayah I Periode 2007-2009 berkedudukan di Himpunan Mahasiswa Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung.
    • Kedudukan Koordinator Tingkat Wilayah II Periode 2007-2009 berkedudukan di Himpunan Mahasiswa Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
    • Kedudukan Koordinator Tingkat Wilayah III Periode 2007-2009 berkedudukan di Himpunan Mahasiswa Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Halu Uleo, Kendari.
  • Anggota
    • Seluruh Himpunan Mahasiswa Agronomi/Budidaya Pertanian atau Organisasi Mahasiswa Sejenisnya di Indonesia.

AGENDA KERJA

  • Program Kerja Nasional
    • Seminar Nasional, Festival Tanaman Hortikultura (FTH) dan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS) diselenggarakan oleh HIMAGRO Faperta Universitas Alkhaeraat, Palu pada tanggal 9 hingga 12 Juli 2007.
    • Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional (LOKTIMANAS) diselenggarakan oleh HIMPROAGRO Faperta Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada bulan November 2007.
    • Pelatihan Keprofesian dan Kewirausahaan Nasional diselenggarakan oleh HIMADATA Faperta Universitas Sebelas Maret, Solo pada bulan November 2007.
    • Bhakti Profesi Mahasiswa Agronomi Indonesia dan Pelatihan Advokasi Masyarakat Tani Indonesia serta Pertemuan Mitra Tani Mahasiswa Nasional diselenggarakan oleh HIMAGRO Faperta Universitas Mulawarman, Samarinda pada bulan Februari atau Maret 2008.
    • Training Organisasi Profesi Mahasiswa Agronomi Nasional (TOPMANAS) diselenggarakan oleh HIMAGRO Faperta Universitas Udayana, Bali pada bulan Juni 2008.
  • Program Kerja Jangka Panjang
    • Training Organisasi Profesi Mahasiswa Agronomi (TOPMA) oleh anggota tiap tahunnya.
    • Konservasi Plasma Nutfah Tanaman Potensial Indonesia melalui pemberdayaan dan pendayagunaan kebun koleksi tanaman disetiap institusi anggota.
    • Perintisan, pembentukan, dan pelembagaan desa-desa binaan untuk setiap institusi anggota.

SEJARAH DAN DINAMIKA FKK-HIMAGRI

Pertemuan Nasional I (Masa Bakti 1984-1986)

Pada tanggal 22-25 November 1984 di Kampus Baranangsiang Institut Pertanian Bogor, dilangsungkan sebuah Pertemuan Nasional (Pertama) Mahasiswa Agronomi Indonesia yang bertujuan untuk membahas masalah tentang komunikasi dan kerjasama dalam mencari wadah Mahasiswa Agronomi tingkat Nasional. Beberapa keputusan yang dihasilkan dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Agronomi Indonesia, 22-25 November 1984 adalah disepakati pembentukan Forum Komunikasi dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (FKK HIMAGRI), tepatnya pada tanggal 25 November 1984, pembentukan Badan Pelaksana, yaitu a) Biro Pusat Informasi dan Kerjasama (BPIK) yang dijabat oleh Himpunan Mahasiswa Agronomi Institut Pertanian Bogor, b) Koordinator Bidang Informasi (KBI) dipercayakan kepada Ikatan Mahasiswa Agronomi Universitas Gadjah Mada, dan c) Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat (KBPM) dipercayakan kepada Himpunan Mahasiswa Agronomi Universitas Tidar Magelang. Kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Badan Pelaksana disepakati selama 2 (dua) tahun dan setelah itu akan diadakan kembali Pertemuan Nasional Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia.

Pertemuan Nasional II (Masa Bakti 1986-1988)

Kepengurusan FKK HIMAGRI periode 1986-1988 dimulai dengan penyelenggarakan Pertemuan Nasional II FKK HIMAGRI di Kampus Air Tawar Universitas Andalas Padang pada tanggal 10-12 Februari 1986. Dalam Pertemuan Nasional II FKK HIMAGRI ini disepakati a) Penetapan Aturan Umum dan Aturan Khusus (AU&AK) dan b) Penetapan Badan Pelaksana yaitu Koordinator Bidang Informasi oleh Himagron IPB, Koordinator Tingkat Wilayah (KTW) yang berfungsi untuk memudahkan koordinasi dan kerjasama serta mengatasi hambatan geografis, Menetapkan Program Kerja FKK HIMAGRI Periode 1986-1988, dan Terbitnya Buletin FKK HIMAGRI oleh Himagron IPB.

Pertemuan Nasional III (Masa Bakti 1988-1990)

Untuk persiapan Pertemuan Nasional III FKK HIMAGRI maka diadakan Pra Pertemuan Nasional pada tanggal 12-13 Desember 1987 di Cipayung Bogor. Setelah dilaksanakannya Pra PERNAS, maka diadakan Pertemuan Nasional III FKK HIMAGRI yang dilaksanakan pada tanggal 9-17 September 1988 di Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Pada periode sebelumnya tampuk pimpinan FKK HIMAGRI dijabat oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Agronomi pada institusi yang dimandatkan menjadi Koordinator Bidang Informasi, yaitu pada Pertemuan Nasional I tahun 1984 di IPB Bogor dan PERNAS II tahun 1986 di Padang. Pada Pertemuan Nasional III FKK HIMAGRI ini terpilih menjadi Biro Pusat FKK HIMAGRI adalah Himpunan Mahasiswa Agronomi Institut Pertanian Bogor dengan masa bakti 1988-1990. Biro Pusat FKK HIMAGRI telah berhasil mengambil beberapa kebijakan seperti: Pengadaan Desa Mitra Kerja dan Penerbitan Buletin FKK HIMAGRI. Perjalanan ketiga periode kepengurusan FKK HIMAGRI ternyata sudah cukup kuat bagi FKK HIMAGRI untuk mendapatkan pengakuan dari Lembaga Pendidikan Pemerintah sebagai salah satunya wadah bagi mahasiswa Agronomi di Indonesia dengan keluarnya pengukuhan Surat Keputusan DIKTI NO:025/DIKTI/KEP/1990 tentang Pengukuhan Forum Komunikasi Dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi Indonesia (FKK HIMAGRI) Sebagai Satu-Satunya Wadah Tingkat Nasional Bagi Mahasiswa Agronomi. Surat Keputusan ini terbit pada tanggal 14 April 1990. Memasuki penghujung akhir kepengurusannya Biro Pusat FKK HIMAGRI mengadakan suatu Musyawarah Kerja di Kampus Baranangsiang IPB pada tanggal 8-10 Februari 1990.

Pertemuan Nasional IV (Masa Bakti 1990-1992)

Kemudian pada tanggal 10-14 Oktober 1990 diadakan Pertemuan Nasional IV FKK HIMAGRI yang dilaksanakan oleh Universitas Hasanuddin Ujung Pandang, dalam Pertemuan Nasional IV tersebut telah disepakati tentang Lambang, Bendera, dan Mars FKK HIMAGRI. Himpunan Mahasiswa Agronomi Institut Pertanian Bogor untuk yang ke-empat kalinya dipercayakan sebagai Biro Pusat FKK HIMAGRI untuk masa bakti 1990-1992. Adapun kebijakan-kebijakan yang diambil antara lain: penerbitan Buletin, Seminar, Festival Tanaman, dan Desa Mitra Kerja. Pada tanggal 18 -23 Februari 1992 di IPB diadakan Musyawarah Kerja sebagai upaya untuk persiapan Pertemuan Nasional V FKK HIMAGRI.

Pertemuan Nasional V (Masa Bakti 1992-1994)

Pesta Akbar kelima Pertemuan Nasional V FKK HIMAGRI dilaksanakan pada tanggal 12-17 Oktober 1992 di Universitas Wijaya Kusuma, Surakarta. Untuk pertama kalinya posisi Biro Pusat FKK HIMAGRI keluar dari Pulau Jawa, dimana untuk posisi Biro Pusat FKK HIMAGRI masa bakti 1992-1994 dipercayakan kepada Universitas Hasanuddin Ujung Pandang. Pada masa kepengurusan ini telah berhasil diterbitkan Buku Sejarah FKK HIMAGRI dan dilaksanakannya TOPMA (Training Organisasi Profesi Mahasiswa Agronomi). Menjelang akhir kepengurusan, maka pada tanggal 1-6 Februari 1994 dilaksanakan Musyawarah Kerja Nasional di Universitas Hasanuddin Ujung Pandang.

Pertemuan Nasional VI (Masa Bakti 1994-1996)

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta kembali menggelar Pertemuan Nasional VI FKK HIMAGRI sebagai upaya kelanjutan roda organisasi yang dilaksanakan pada tanggal 16-23 Oktober 1994. Dalam Pertemuan Nasional VI ini, jabatan Biro Pusat FKK HIMAGRI kembali pindah ke Jawa dengan dipilihnya Ikatan Mahasiswa Agronomi Universitas Gadjah Mada sebagai Biro Pusat FKK HIMAGRI periode 1994-1996. Beberapa kegiatan yang berhasil dilaksanakan antara lain adalah kunjungan kelembagaan ke beberapa Departemen/ Lembaga/ Organisasi profesi lainnya dengan melibatkan sejumlah Koordinator Tingkat Wilayah, menyusun Draf Panduan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), dilaksanakannya Pra Pertemuan Nasional dan Kaderisasi FKK HIMAGRI tanggal 26-30 Maret 1996 di UGM, Pameran Produksi Pertanian Nasional dan Inventarisasi Plasma Nutfah di IPB Bogor tanggal 31 Maret hingga 3 April 1996 dan Kemah Bakti Nasional Mahasiswa Agronomi Indonesia pada tanggal 4-6 Maret 1996 di Universitas Djuanda, serta penerbitan Warta HIMAGRI.

Pertemuan Nasional VII (Masa Bakti 1996-1998)

Untuk kedua kalinya Pulau Sumatera menjadi arena Pertemuan Nasional VII FKK HIMAGRI dengan dipercayakannya tuan rumah pada Universitas Islam Sumatera Utara (UISU Medan) sebagai pelaksana PERNAS VII FKK HIMAGRI yang diselenggarakan pada tanggal 14-17 Oktober 1996. Pada Pertemuan Nasional VII FKK HIMAGRI ini posisi Biro pusat FKK HIMAGRI dipercayakan kepada Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) untuk masa bakti 1996 – 1998. Pada masa kepengurusan tersebut, Biro Pusat mengambil beberapa kebijakan yang tertuang dalam 3 (tiga) kebijakan umum organisasi yang dibagi dalam dua semester yaitu Semester I) Pembenahan dan Konsolidasi Organisasi dan II) Pengembangan dan Pemantapan Program Kerja. Ketiga kebijakan umum tersebut adalah meliputi: Pembenahan Organisasi, Pemberdayaan Koordinator Tingkat Wilayah serta Reorientasi Kegiatan. Ketiga kegiatan tersebut sebagian besar dapat diaktualisasikan pada program kerja FKK HIMAGRI diantaranya : Konsolidasi dan Koordinasi dengan KTW-KTW, Kuliah Umum Agronomi, Seminar Nasional, TOPMA, Agro Fair, Pengabdian kepada Masyarakat, Pemanfaatan Lahan Tidur, Pembuatan Kebun Holtikultura dan pemberdayaan Koordinator Tingkat Wilayah FKK HIMAGRI dengan memberikan wewenang penuh terhadap KTW untuk mengembangkan wilayahnya masing-masing.

Pertemuan Nasional VIII (Masa Bakti 1999-2001)

Pada bulan Februari 1999, bertempat di Universitas Haluoleo Kendari dilangsungkan Pernas VIII. Pernas ini menghasilkan beberapa keputusan, antaranya pendeklarasian Biro Alumni dengan rekomendasi pembentukan kepengurusannya serta pengesahannya pada KBNMAI (Kemah Bakti Nasional Mahasiswa Agronomi Indonesia) di Sumatera Barat, juga penunjukan Universitas Hasanuddin sebagai pelaksana TOPMA tingkat Nasional tahun 2000, disamping terpilihnya tuan rumah Unhalu sebagai Biro Pusat periode 1999-2001, dengan sekjennya Sarus. Ditetapkan pula Universitas Sriwijaya Pelembang sebagai penyelenggara Pernas IX tahun 2000.

Pertemuan Nasional IX (Masa Bakti 2001-2003)

Pada Pernas IX tahun 2001 yang diadakan di Universitas Sriwijaya Palembang dihasilkan beberapa keputusan baru dengan dibentuknya Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) yang pada saat itu Saudara Idrus Aziz dari Himagro Universitas Tadulako terpilih sebagai Ketua umum yang pertama. Selain itu juga diputuskan Program pendampingan masyarakat tani untuk tiap institusi yang bernama Desa Mitra Kerja (DMK). Dan diputuskan sebagai Sekretaris Jenderal FKKHIMAGRI periode 2001-2003 adalah saudara Yaser Amrullah Mubarak dari IPB Bogor.

Pertemuan Nasional X (Masa Bakti 2003-2005)

Pada bulan maret 2003 kembali diadakan Pertemuan Nasional X (Pernas X) di Malino, Makassar, Sulawesi Selatan oleh Universitas Muslim Indonesia Makassar (UMI Makassar) sebagai pengemban amanah Pernas IX di Palembang. Dalam Pernas X ini dihasilkan beberapa keputusan diantaranya dihapuskannya Biro Alumni yang pasif selama beberapa tahun terakhir. Selain itu atas desakan dan keluhan persoalan waktu dari tiap institusi akan pelaksanaan TOPMA NASIONAL yang hanya sekali dalam satu periode, maka diputuskan untuk periode 2003-2005, TOPMANAS dilaksanakan sebanyak dua kali dan daerah yang ditunjuk untuk mengadakan TOPMANAS adalah Universitas Lampung di Lampung dan Universitas Tanjung Pura di Banjarmasin. Selain itu juga dengan melihat letak daerah yang satu dengan yang lain dan juga keaktifan tiap institusi dalam kegiatan FKK-HIMAGRI diputuskan adanya perampingan wilayah dari 9 (sembilan) menjadi 7 (tujuh) wilayah. Dalam Pernas X yang dilaksanakan dimakassar ini dikukuhkan juga sebuah institusi baru yang berada di Pulau Buru Ambon yakni UMI BURU menjadi anggota baru dalam FKK-HIMAGRI. Dan dari pemilihan Sekjen yang diadakan terpilih Saudara Massuana dari UMI makassar untuk Periode 2003-2005, DPO oleh saudara Kepri dari HIMAGRO Univ. Bengkulu dan diputuskan Universitas Mulawarman Samarinda sebagai penyelenggara Pernas XI pada tahun 2005.

Pertemuan Nasional XI (Masa Bakti 2005-2007)

Pertemuan Nasional XI dilaksanakan di Kalimantan pada tanggal 2-9 Mei 2005 dengan Himagro Faperta Universitas Mulawarman sebagai tuan rumah, amanah dari PERNAS ke X di Malino, Makassar. Pembukaan Pernas XI pada tanggal 2 Mei 2005 dilaksanakan di Himagro Universitas Kutai Kertanegara Tenggarong. Pada Pernas ini Himagro Universitas Lambung Mangkurat dipercayakan sebagai Biro Pusat FKK HIMAGRI Masa Bakti 2005-2007, dengan Sekretaris Jenderal atas nama Ahmad Mujahidin dan DPO atas nama Syaiful Imam dari HIMAGRO Univ. Tadulako Palu. Dalam Pernas XI ini terjadi peristiwa yang tak pernah ada sepanjang perjalanan FKK-HIMAGRI, yang mana Biro Pusat (Sekjen) secara bersamaan dengan Koordinator DPO tidak hadir dalam Pernas untuk memberikan Laporan Pertanggungjawabannya dan dari 100 lebih institusi yang merupakan anggota tetap, hanya 8 institusi yang menghadiri kegiatan terbesar itu. Bias yang terjadi adalah seluruh keputusan lebih berorientasi pada pembahasan sanksi dan perubahan ADR/RT serta Perampingan Wilayah dari 7 (tujuh) menjadi 3 (tiga) wilayah. Pertemuan Nasional berikutnya (XII) ditetapkan di Makassar dengan Himagro Unhas sebagai penyelenggara Pernas XII. Lebih kurang 1 tahun kepengurusan Biro Pusat FKK HIMAGRI Masa Bakti 2005-2007, Sekjen meminta kepada DPO untuk diadakan Pernaslub atau mengundurkan diri. Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) akhirnya mengadakan Musyawarah Luar Biasa di Makassar dengan Universitas Hasanuddin sebagai tuan rumah, bertepatan dengan pelaksanaan Training Organisasi Profesi Mahasiswa Agronomi Nasional (TOPMANAS) FKK HIMAGRI. Penetapan Himagro Universitas Hasanuddin sebagai pelaksana PERNASLUB dengan pertimbangan bahwa kedudukan PERNAS dan PERNASLUB adalah sama. Akhirnya disepakati pemilihan Pejabat Sementara Sekjen (PJS) atas nama Ali Sastrawansah dari Himagro Universitas Hasanuddin untuk mengawal FKK HIMAGRI hingga diadakannya Pertemuan Nasional Luar Biasa.

Pertemuan Nasional Luar Biasa (Masa Bakti 2006-2008)

Setelah beberapa bulan Biro Pusat FKK HIMAGRI dipimpin oleh PJS, akhirnya dilaksanakanlah Pernaslub pada tanggal 9-11 September 2006 di Makassar oleh Himagro Unhas atas amanah dari Musyawarah Luar Biasa. Tuan rumah pelaksana Pernaslub, Himagro Universitas Hasanuddin untuk kedua kalinya dipercayakan sebagai Biro Pusat FKK HIMAGRI Masa Bakti 2006-2008 dengan Sekretaris Jenderal atas nama saudara Andi Amirullah. Dewan Pertimbangan Organisasi atas nama Moeh. Amien dari Himagro Universitas Tadulako sebagai koordinator, Ladzim Sofi dari Himadata Universitas 11 Maret, dan Suroyo dari Himagro Universitas Tirtayasa Banten. Di awal kepengurusan BP, pembagian 3 wilayah (keputusan pernas XI) masih dalam bentuk konseptual dan belum pernah terimplementasikan hingga terpilih KTW masing-masing. Akhirnya Biro Pusat mengambil alih pelaksanaan Pertemuan Wilayah (I, II dan III) hingga terpilihnya Koordinator-koordinator Tingkat Wilayah (KTW). Perwil I dilaksanakan oleh Himagro Universitas Padjajaran, terpilih KTW I dari Himagro Universitas Lampung atas nama Hudalkhakim. Perwil II dilaksanakan oleh Himagro Universitas Palangkaraya, terpilih KTW II dari Himagro Univeritas Gadjah Mada atas nama Dimas Ade Rahmawan. Pertemuan Wilayah III oleh Himadata Universitas Brawijaya, terpilih KTW II dari Himagro Universitas Halu Uleo atas nama Muh. Isnan.